EMSATUNEWS.CO.ID – BANGKOK — Keuangan syariah perlu mengambil peran lebih besar dalam mendorong pembangunan berkelanjutan, memperluas inklusi keuangan, dan memperkuat ketahanan ekonomi. Pesan ini mengemuka dalam program afiliasi yang diselenggarakan oleh Islamic Bank of Thailand (ibank) bersama International Islamic Economics and Finance Conference for Sustainable Development (IFESDC), di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF–World Bank Group 2026 di Bangkok, Thailand.
Dalam sambutan pembukaan resmi, Yang Mulia Arun Boonchom, Sheikhul Islam Thailand, menyoroti bahwa pada intinya, keuangan syariah berlandaskan pada tujuan-tujuan syariah (Maqasid al-Shariah) yang mengedepankan keadilan sosial, kesetaraan, pembagian risiko yang transparan, serta pelestarian harta demi kemaslahatan umum (Maslahah). Acara ini dihadiri oleh 150 peserta yang tidak hanya berasal dari negara-negara ASEAN, tetapi juga dari kawasan Afrika dan Timur Tengah.
Pimpinan Islamic Development Bank (IsDB) Group, Muhammad Sulaiman Al Jasser, dalam sambutannya menyatakan: “Masa depan keuangan syariah tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan asetnya, melainkan juga dari nilai yang diciptakan bagi masyarakat, ketahanan yang dibangun dalam komunitas, serta kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan.”
Selanjutnya, diskusi panel digelar dengan tema “Keuangan Syariah: Dari Ketahanan Krisis menuju Pembiayaan Transisi.” Program ini mempertemukan para praktisi dan akademisi terkemuka untuk mengkaji bagaimana lembaga keuangan syariah dapat memobilisasi modal demi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya di kawasan ASEAN. Acara ini menghadirkan Thaweelap Rittapirom, Direktur dan Presiden ibank; Arga Mahanana Nugraha, Wakil Presiden Direktur Bank Syariah Nasional (BSN) Indonesia; serta Mohd Azmi Omar, Presiden dan CEO INCEIF University. Diskusi dipandu oleh Murniati Mukhlisin, yang mewakili IFESDC, sebuah konsorsium yang terdiri dari IMAAM, Universitas Tazkia, Sakinah Finance, dan EDS16 The World Bank Group.
Dialog tersebut membahas ketahanan kelembagaan, inklusi keuangan, mekanisme pembagian risiko, sukuk, kerangka kerja Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) syariah, serta peran keuangan sosial Islam dalam mengatasi kemiskinan dan mendukung komunitas yang belum terlayani akses keuangan.
Fokus utama diskusi adalah menerjemahkan prinsip-prinsip keuangan syariah ke dalam solusi pembiayaan yang praktis. Sukuk, pembiayaan berbasis aset, serta akad pembagian risiko seperti Musyarakah dan Mudharabah dibahas sebagai mekanisme potensial untuk memobilisasi modal bagi sektor energi terbarukan, infrastruktur berkelanjutan, serta usaha kecil dan menengah (UKM). Integrasi zakat dan wakaf ke dalam ekosistem keuangan yang lebih luas juga disorot sebagai peluang untuk memperkuat perlindungan sosial dan partisipasi ekonomi.
Panel tersebut lebih lanjut menekankan potensi ASEAN untuk memperkuat posisinya dalam keuangan syariah global melalui kerja sama regional. Interoperabilitas yang lebih baik di antara lembaga keuangan, regulator, institusi akademis, dan mitra pembangunan dapat memfasilitasi arus modal lintas batas serta mendukung pengembangan taksonomi keuangan transisi yang kredibel dan indikator dampak bersama.
“Dari prinsip menuju bukti nyata, dari instrumen keuangan menuju dampak yang terukur, dan dari inisiatif lembaga secara individual menuju kerja sama regional,” ujar Murniati dalam pernyataan penutupnya.
Diskusi tersebut menggarisbawahi pentingnya tata kelola yang kokoh, pelaporan yang transparan, serta hasil sosial dan lingkungan yang terukur untuk memastikan bahwa keuangan transisi Islam memberikan manfaat substantif yang melampaui sekadar kepatuhan Syariah atau label keberlanjutan.
Sebagai inisiatif tindak lanjut, ibank berencana menerbitkan “Bangkok Policy Note” sebagai sebuah rekomendasi kebijakan mengenai Keuangan Transisi Islam dalam waktu dua hingga tiga minggu setelah acara tersebut. “Catatan kebijakan ini diharapkan dapat menerjemahkan diskusi tersebut menjadi rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat ketahanan institusional, memperluas inklusi keuangan, memobilisasi modal transisi, dan meningkatkan konektivitas ASEAN dengan ekosistem keuangan Islam global. Jadi, acara ini tidak berakhir hanya hari ini,” ujar Thaweelap dalam sambutan penutupnya.
Program ini diakhiri dengan seruan bersama untuk memperkuat kolaborasi di seluruh industri keuangan Islam dan menyelaraskan inovasi keuangan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan serta kemakmuran bersama yang lebih luas.
Dengan menghubungkan ketahanan institusional dan dampak yang terukur, keuangan Islam memiliki peluang untuk menjadi penggerak yang lebih efektif bagi pertumbuhan inklusif dan transformasi ekonomi berkelanjutan di seluruh ASEAN dan wilayah lainnya. (FRM)













