PEMALANG, Emsatunews.co.id — Siapa sangka sebuah ungkapan sederhana dari seorang pemimpin desa bisa berubah menjadi pemandangan yang menakjubkan, bak negeri sakura tanpa harus menyeberang lautan. Desa Wanarata, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, kini menjadi sorotan warga dari berbagai penjuru. Deretan pohon bermekaran warna merah muda dan putih memenuhi pucuk-pucuk dahan, menghiasi jalanan desa seolah menyapa setiap orang yang melintas.

Bukan pohon sakura asli dari Jepang. Itulah Tabebuya, tanaman asal Brasil ( Sering disebut sebagai Sakura Tropis atau Sakura dari Brasil karena bentuk bunganya yang mirip bunga sakura asal Jepang, padahal keduanya tidak berkerabat ) yang kini menjelma menjadi kebanggaan Desa Wanarata.

Dalam wawancara yang dilakukan pada Minggu, 4 September 2026, Kepala Desa Wanarata, Elok Rakhmawati, mengenang bagaimana semuanya bermula. Tepat pada tahun 2021, ia menyampaikan keinginan tulusnya kepada Ketua Karang Taruna saat itu, Untung Surianto, S. Pd. “Mas Untung, saya ingin Desa Wanarata lebih indah, setidaknya ada tanaman yang cantik dan berbeda dari desa lain, seperti di Negeri Jepang,” ujar Elok, mengulang kata-katanya dari masa lalu.
Ungkapan hati itu disambut cepat. Mas Untung menyebutkan nama yang kini tak asing lagi: Tabebuya. Tak berhenti di situ, Pemerintah Desa Wanarata segera menyusun proposal pada tahun yang sama. Ketika bibit tiba, warga bersatu — Pemdes bersama Karang Taruna bahu-membahu menanamnya di sepanjang jalan dan ruang terbuka desa.

Kini, tiga tahun berlalu, hasilnya membius siapa saja yang melihatnya. Saat musim mekar tiba, bunga-bunga bermunculan hampir menutupi dedaunan, menjadikan jalanan desa tampak seolah diselimuti awan merah muda dan putih, persis seperti pemandangan musim sakura di Jepang.
Namun, Tabebuya bukan sekadar soal keindahan. Pohon ini dipilih karena keunggulannya yang nyata: tetap tumbuh subur meski saat musim kemarau, daun dan tajuknya menyerap karbon dioksida sekaligus menurunkan suhu lingkungan, serta akarnya yang bertipe tunggang sehingga aman ditanam di pinggir jalan tanpa merusak bangunan atau perkerasan. “Desa Wanarata kini punya musim mekarnya sendiri. Bedanya, keindahan ini bisa dinikmati tanpa harus terbang ke luar negeri,” tutur Elok dengan bangga.
Ida Mulyani, Anggota DPRD Pemalang Fraksi Gerindra putri asli dari Desa Wanarata, ketika diminta komentar nya menyatakan,”Keindahan pohon Tabebuya saat ini adalah ide kreatif yang sederhana dari Kepala Desa Wanarata Elok Rakhmawati yang patut diapresiasi dan akan jauh lebih lengkap dan indah jika ditanam secara berkesinambungan sejak masuk ke wilayah Desa Wanarata, sepanjang jalan menuju ke desa. Pemandangan tersebut akan menjadi daya tarik yang viral dan membuat masyarakat luas mengenal Desa Wanarata dan efeknya akan membuat UMKM Desa Wanarata akan tumbuh secara signifikan karena akan menjadi wisata tersendiri. Keindahan Tentang Tabebuya di Desa Wanarata ini sudah menjadi tren di kalangan pengguna media sosial, karena pemandangan itu menjadi salah satu tempat berfoto yang sayang untuk dilewatkan. Saya pun merasa bangga Desa Wanarata dapat dikenal lebih luas, bahkan bisa mendunia melalui media sosial. Dan kami siap membantu mewujudkannya.”ungkapnya.
Kisah ini mengajarkan: perubahan besar bermula dari impian sederhana, lalu diwujudkan dengan kerja bersama, kesabaran, dan kepedulian terhadap lingkungan. Satu pohon ditanam, ratusan ikut merawat, dan kini ribu orang menikmati keindahannya.
Bagaimana dengan daerah Anda? Apakah Tabebuya juga sedang mekar di tempat Anda? Mari berbagi keindahan, karena alam yang terjaga adalah warisan paling indah bagi generasi mendatang. ( Joko Longkeyang).













