Berita UtamaDaerahPemalang

Aksi Manis Kafilah Pemalang: Bagi-bagi Nanas Madu Gratis di Pawai Ta’aruf MTQ XXXI

Joko Longkeyang
4
×

Aksi Manis Kafilah Pemalang: Bagi-bagi Nanas Madu Gratis di Pawai Ta’aruf MTQ XXXI

Sebarkan artikel ini

SEMARANG, Emsatunews.co.id – Kemeriahan Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang, Sabtu (12/9/2026), berubah menjadi ajang pesta buah yang menyedot perhatian warga. Kafilah Kabupaten Pemalang sukses mencuri panggung dengan membagikan ratusan nanas madu segar secara gratis kepada para pengunjung di sepanjang rute parade.

​Pawai yang dimulai dari Balai Kota Semarang hingga Kantor Gubernur Jawa Tengah ini dibuka langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Acara ini diikuti oleh 43 kontingen dari berbagai daerah. Dalam pesan pembukaannya, Agustina menegaskan bahwa pawai budaya lintas agama ini membawa misi besar untuk memperkuat toleransi, persaudaraan, dan kerukunan antarumat beragama.

Baca Juga :  Petugas Gabungan Polres Brebes Gencarkan Operasi Yustisi, Ingatkan Warga Disiplin Prokes

​Di tengah warna-warni pakaian adat dan pertunjukan seni nusantara, kontingen Pemalang tampil menonjol lewat parade mobil hias raksasa berbentuk nanas madu. Suasana kian semarak saat tarian tradisional Grombyang serta kirab siswa MAN Pemalang melintas, diiringi aksi para petugas yang membagikan buah manis khas pesisir tersebut kepada ribuan penonton.

​Kepala Bagian Kesra Setda Pemalang, Tarsidik, menyampaikan bahwa momen ini dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi lokal daerah, mulai dari kuliner nasi grombyang, sate loso, hingga sarung goyor.​”Kami ingin membawa identitas kebanggaan Pemalang ke tingkat nasional. Selain menyemarakkan MTQ, aksi bagi-bagi nanas madu ini adalah cara kami menyapa warga dengan keramahan khas daerah,” terang Tarsidik di lokasi acara.

Baca Juga :  Menhan Prabowo Terima Kunjungan Resmi Menhan Arab Saudi, Perkuat Kerja Sama Pertahanan

​Aksi bagi-bagi buah gratis tersebut tak pelak membuat warga berebut bahagia. MTQ XXXI pun terbukti tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga ruang perjumpaan budaya yang hangat, meriah, dan berkesan bagi masyarakat luas.( Joko Longkeyang).