Scroll ke Atas
Berita UtamaBudayaDaerahNasionalPemalang

Ribuan Obor Menyala, Warga Penggarit Khidmat Peringati Malam Satu Suro

Joko Longkeyang
8
×

Ribuan Obor Menyala, Warga Penggarit Khidmat Peringati Malam Satu Suro

Sebarkan artikel ini

PEMALANG, Emsatunews.co.id – Suasana sakral dan khidmat menyelimuti Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah pada Senin (15/06/2026) malam. Ribuan warga tumpah ruah turun ke jalan untuk menggelar tradisi tahunan dalam rangka memperingati pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan dengan Malam Satu Suro dalam kalender Jawa.

Advertisement

​Kegiatan bernuansa spiritual dan budaya ini diikuti secara antusias oleh seluruh elemen masyarakat. Mulai dari jajaran perangkat desa, penggerak PKK, pemuda Karang Taruna, hingga warga umum menyatu dalam barisan.

​Pantauan di lokasi, prosesi sakral ini dimulai dari halaman Balai Desa Penggarit. Ribuan warga melakukan long march atau jalan kaki sejauh kurang lebih 2 kilometer menuju kompleks Makam Pangeran Benowo. Menariknya, sepanjang rute yang dilalui, lampu teras rumah-rumah warga sengaja dipadamkan. Suasana malam yang gelap gulita pun seketika berubah dramatis dan estetis saat diterangi oleh cahaya dari ribuan obor yang dibawa oleh peserta pawai.

Baca Juga :  Pemdes Paguyangan Gandeng SMAN 01 Paguyangan Gelar Seleksi Calon Perangkat Desa Guna Mengisi Kekosongan Dua Jabatan

​Simbolisme Burung Perkutut dan Doa Kesejahteraan

​Sebelum rombongan pawai obor diberangkatkan, Kepala Desa Penggarit, Imam Wibowo, bersama tokoh perwakilan masyarakat melakukan aksi simbolis melepas burung perkutut ke udara.

​Saat ditemui di lokasi kegiatan, Imam Wibowo menyampaikan bahwa pelepasan burung tersebut merupakan simbol refleksi waktu untuk melepas tahun 1447 Hijriah dan melangkah optimistis menuju tahun 1448 Hijriah.​”Melalui momentum ini, kami menyisipkan doa dan harapan besar agar seluruh masyarakat Desa Penggarit ke depan bisa hidup lebih sejahtera, rukun, dan selalu dalam lindungan-Nya,” ujar Imam kepada awak media, Senin malam.

​Setibanya di kompleks Makam Pangeran Benowo, ribuan warga langsung menggelar doa dan tahlilan bersama. Prosesi ini menjadi puncak ritual untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sekaligus menghormati leluhur. Bagi masyarakat Jawa, Malam Satu Suro memang bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momen krusial untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan mawas diri.

Baca Juga :  Tidak Punya Jembatan Mandiri, Desa Penggarit Desa Edukasi Yang Terisolasi Terasa Belum Merdeka

​Peluncuran Logo Desa: Merawat Sejarah untuk Anak Cucu

​Tidak hanya sarat dengan ritual keagamaan dan adat, momen peringatan Malam Satu Suro tahun ini juga menjadi catatan sejarah baru bagi Desa Penggarit. Di hadapan ribuan warganya, Kepala Desa resmi meluncurkan (launching) Logo Desa Penggarit yang baru.

​Logo tersebut didesain khusus berdasarkan nilai filosofis dan historis berdirinya desa, yakni berupa visualisasi pang (dahan pohon) yang di-garit (digores).

​Imam Wibowo menegaskan bahwa logo ini memiliki fungsi krusial untuk menjaga identitas lokal agar tidak tergerus zaman.”Logo ini diterbitkan untuk kepentingan internal warga Desa Penggarit. Tujuannya sangat mendalam, yaitu sebagai pengingat bagi anak cucu kita di masa depan mengenai sejarah dan asal-usul berdirinya desa yang kita cintai ini,” pungkasnya secara tegas.( Joko Longkeyang).