PEMALANG, Emsatunews.co.id — Dunia pendidikan di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, berduka. Diah Indriyanti (36) dan Nurwandi tak pernah membayangkan keceriaan putra mereka, Muhammad Hasbi Al Aqib (7), harus terenggut secepat ini. Murid kelas 2 SDN 1 Kebondalem tersebut meninggal dunia pada Rabu (30/9/2026) di RSUD dr. M. Ashari Pemalang setelah sembilan hari menahan sakit yang luar biasa.

Kematian almarhum menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Aqib yang mulanya ceria mendadak berubah menjadi pendiam dan mengeluhkan sakit parah di bagian perut hingga kesulitan berjalan. Kepada tim medis dan keluarganya, bocah polos itu mengaku perutnya telah dipukul serta ditendang menggunakan sepatu oleh kakak kelasnya saat jam istirahat sekolah.
Sang ayah, Nurwandi, membeberkan bahwa anaknya sempat menunjuk foto terduga pelaku perundungan sebelum wafat. Terduga pelaku ditengarai terdiri dari tiga anak, yakni dua siswa kelas 5 dan satu siswa kelas 6.
Langkah keluarga menuntut keadilan berlanjut ke jalur hukum dengan pendampingan dari Master Justice Law Office yang dipimpin Huseinda Kusuma, S.H., M.H., CPCLE. Usai mendampingi pemeriksaan saksi di Mapolres Pemalang pada Rabu (7/10/2026), Huseinda Kusuma menegaskan pentingnya penegakan hukum yang transparan tanpa menutup-nutupi fakta.
”Selesai pemeriksaan saksi, kami berharap agar proses penegakan hukum dapat berjalan seterang-terangnya dan mencapai keadilan yang sejati. Dalam perkara pidana, bukti harus lebih terang dari cahaya,” tegas Huseinda.
Ia menambahkan bahwa seluruh proses pemeriksaan berjalan kooperatif untuk menyelaraskan kronologi kejadian. Pembuktian penyebab pasti kematian kini diserahkan sepenuhnya pada rekam medis, hasil autopsi tim forensik Biddokkes Polda Jateng, serta penyelidikan objektif dari penyidik Polres Pemalang.
Tragedi ini menyorot perhatian nasional. Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, datang langsung ke Pemalang untuk melayat ke rumah duka, meninjau lokasi sekolah, dan berkoordinasi dengan kepolisian. Doli menegaskan bahwa fenomena perundungan di lingkungan sekolah tidak boleh dianggap sebagai hal biasa atau sekadar kenakalan anak-anak. “Kejadian ini harus diekspos seterbuka-terbukanya supaya masyarakat Indonesia, pemerintah, guru, dan orang tua punya kesadaran bersama. Ada potensi masalah yang menjadi api dalam sekam. Jika tidak kita buka sekarang, ini akan mengancam masa depan bangsa,” ujar Doli.
Ia menekankan bahwa program pemerintah dalam mencerdaskan dan memenuhi gizi anak akan sia-sia jika kesehatan mental dan moral anak rusak akibat budaya kekerasan yang dibiarkan.
Kini, keluarga korban dan masyarakat luas menanti hasil resmi penyelidikan Polres Pemalang agar kebenaran terungkap dan keadilan bagi almarhum Aqib dapat ditegakkan seadil-adilnya.( Joko Longkeyang).













