Berita UtamaDaerahPemalang

Satu Titik Api Muncul Kembali di Gunung Lawu, Ahmad Luthfi Perintahkan Penyisiran Menyeluruh

Joko Longkeyang
3
×

Satu Titik Api Muncul Kembali di Gunung Lawu, Ahmad Luthfi Perintahkan Penyisiran Menyeluruh

Sebarkan artikel ini

KARANGANYAR, Emsatunews.co.id— Kabar baik belum berlangsung lama. Setelah kebakaran hutan dan lahan di Gunung Lawu dinyatakan padam pada Minggu, 25 Oktober 2026, Senin pagi petugas kembali menemukan satu titik api baru di kawasan atas Gondosuli, Kabupaten Karanganyar. Penemuan ini membuat siaga tingkat tinggi tetap diberlakukan — tidak ada satu pun personel yang dipulangkan. Semua diminta tetap di pos masing-masing, menyisir setiap jengkal kawasan agar bara tersembunyi tak berkobar kembali.

Helikopter BNPB Siaga Satu Sorti Lagi

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meninjau langsung Pos Sakura Hills, Tawangmangu, sekaligus memimpin rapat terbatas bersama Bupati Karanganyar, Rober Christanto, BPBD, dan para relawan, Senin siang.”Saya sudah koordinasi dengan Bupati dan BPBD. Helikopter BNPB dari Lanud Adi Soemarmo akan diterjunkan satu sorti lagi, tergantung kondisi cuaca. Satu titik api ini penting kita tuntaskan tuntas, agar tidak memicu titik api lain,” ungkap Luthfi.

Sebelumnya, helikopter pengebom air telah terbang sebanyak 34 kali menyiram kawasan Gunung Lawu. Dengan kapasitas sekitar 2.000 liter per penerbangan, total hampir 68.000 liter air telah dijatuhkan ke titik-titik panas. Namun, medan Gunung Lawu menyimpan tantangan tersendiri.

Baca Juga :  Vaksinasi Mobile Kodim 0713 Brebes Digelar di Desa Kluwut Bulakamba

Ilalang 30 Sentimeter, Bara yang Menunggu Menyala

Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Sugiharto, menjelaskan mengapa api di Gunung Lawu sulit benar-benar hilang. Sebagian besar permukaan tanah tertutup tumpukan ilalang kering yang tebalnya bisa mencapai 30 sentimeter — mirip karakteristik lahan gambut. Api di permukaan bisa padam, tetapi bara masih bisa bersembunyi di bawahnya, lalu muncul kembali saat angin kencang bertiup.”Karhutla Gunung Lawu ini unik. Kalau api di atas sudah padam, di bawah lapisan ilalang bara masih bisa hidup. Bisa muncul lagi kapan saja. Itulah mengapa penyisiran harus teliti dan butuh cairan khusus untuk mematikannya sampai ke akar,” jelas Sugiharto.

Pencegahan: Sosialisasi dan Ancaman Pidana

Sambil memadamkan api yang tersisa, Gubernur Luthfi juga mempertegas langkah pencegahan. Masyarakat diminta tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di kawasan hutan, apalagi sengaja membakar lahan. Tindakan yang menyebabkan kebakaran hutan bukan sekadar kesalahan — itu pelanggaran hukum yang bisa berujung pidana.”Mari jaga hutan bersama. Keterlibatan warga dalam pengawasan sangat kita butuhkan. Kalau ada yang melihat aktivitas mencurigakan, segera laporkan. Hutan ini bukan milik siapa-siapa, tapi warisan untuk kita semua,” ajak Luthfi. Penyebab pasti kebakaran masih diselidiki kepolisian, apakah akibat kelalaian manusia, gesekan alam, atau faktor lainnya.

Baca Juga :  Babinsa dan PPL Bantu Petani Rengasbandung Jatibarang Adakan Gropyok Tikus

Embung dan Tandon Air: Solusi Jangka Panjang

Luthfi tak hanya bicara pemadaman hari ini. Ia juga memerintahkan Dinas PUPR Provinsi, Pemkab Karanganyar, dan Perhutani menyusun rencana pembangunan embung, tandon air, serta saluran air di kawasan pegunungan. Saat musim kemarau tiba, air di lokasi dekat titik rawan kebakaran akan sangat berharga.”Geografis kita berbukit dan bergunung. Saat kemarau panjang, sumber air jauh. Kita tidak bisa selalu mengandalkan helikopter. Sumber air harus ada di lokasi rawan sejak awal. Itu mitigasi yang harus kita bangun sekarang,” tegasnya.

Gunung Lawu mengajarkan satu hal penting: api bisa dipadamkan dalam hitungan hari, tetapi mencegahnya kembali membutuhkan kerja sama yang terus-menerus — dari pemerintah, petugas, relawan, hingga setiap warga yang tinggal di sekitar kaki gunung. ( Joko Longkeyang).