EMSATUNEWS.CO.ID, BREBES – Runtuhnya Gedung Hogwan di Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, yang menewaskan tiga orang, memicu gelombang kekecewaan warga.
Puluhan warga menggelar audiensi di Balai Desa Dukuhturi, Selasa, 1 September 2026, dan secara tegas mendesak Kepala Desa Dukuhturi, Achmad Effendi dituntut mundur dari jabatannya.

Audiensi bukan hanya menyoroti tragedi. Warga membawa sederet persoalan yang dinilai menjadi cermin lemahnya kesiapsiagaan pemerintah desa, mulai dari respons saat darurat, keberadaan *Mobil Siaga Desa*, hingga transparansi pengelolaan aset desa.
Mobil Siaga Jadi Sorotan Utama
Salah satu tuntutan paling keras mengarah pada Mobil Siaga Desa. Warga mempertanyakan keberadaannya saat proses evakuasi korban Gedung Hogwan berlangsung.
Bagi warga, mobil siaga seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan darurat.
“Mobil siaga harus ada di balai desa agar masyarakat yang membutuhkan bisa cepat tertangani. Desa juga harus menganggarkan untuk sopir mobil siaga,” ujar *Andri*, salah satu warga.
Empati Pemerintah Desa Dipertanyakan
Kekecewaan juga datang dari keluarga korban. Seorang kakek korban menyampaikan rasa kecewanya karena Kepala Desa Dukuhturi tidak terlihat saat keluarga berduka.
Ia menilai kehadiran untuk bertakziah adalah bentuk empati dasar pemerintah desa. Ironisnya, ia menyebut justru *Kepala Desa Bumiayu* yang hadir menemui keluarga korban.
Orator audiensi, Heru Budi Rumanto menegaskan akumulasi persoalan ini yang melahirkan tuntutan mundur.
“Atas berbagai peristiwa itu kami menuntut turunkan Kades Dukuhturi sekarang juga,” tegas Heru.
Selain itu, warga meminta seluruh dugaan persoalan, terutama terkait aset desa dan pelayanan Mobil Siaga, diperiksa secara objektif, terbuka, dan sesuai aturan agar tidak menimbulkan spekulasi.
Kades Sampaikan Maaf Dan Kendala Kesehatan
Menanggapi desakan, Achmad Effendi menyampaikan permohonan maaf. Ia menjelaskan saat kejadian dirinya baru mengetahui setelah mendapat laporan warga dan langsung turun membantu.
“Saat kejadian bangunan runtuh saya mendengarnya, setelah itu ada laporan dari warga, terus saya datang membantu,” kata Achmad.
Terkait tuntutan mundur, ia mengaku memahami aspirasi warga. Ia juga menyebut kondisi kesehatannya belakangan terganggu karena asam urat.
Audiensi pukul 10.00 WIB itu diterima langsung kepala desa dan dihadiri Plt Camat Bumiayu Hendra Pradistyo Busono, serta perwakilan Polsek dan Koramil.
Momentum Evaluasi Pelayanan Desa
Bagi warga Dukuhturi, tragedi Hogwan bukan hanya duka. Peristiwa ini menjadi momentum menguji sejauh mana kesiapsiagaan dan empati pemerintah desa dalam melindungi masyarakat.
Kini, bola tindak lanjut berada di tangan pihak terkait. Warga berharap semua tuntutan dievaluasi secara objektif dan transparan, sehingga tidak berhenti sebatas forum audiensi.
“Tragedi ini merenggut tiga nyawa. Jangan sampai kehilangan itu juga diiringi hilangnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah desanya,” ujar salah satu perwakilan warga.***














