Emsatunews.co.id, Semarang – Genap satu tahun masa kepemimpinan di Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menegaskan komitmennya dalam membangun daerah melalui filosofi “Holopis Kuntul Baris” atau gotong royong. Alih-alih menonjolkan kepemimpinan tunggal (one man show), model kepemimpinan yang diterapkan kini lebih menitikberatkan pada peran gubernur sebagai orkestrator bagi tim yang solid.
Dalam laporan Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, pola kepemimpinan ini memberikan ruang inovasi yang luas bagi para kepala dinas. Hal tersebut dibuktikan dengan langkah strategis sejak awal masa jabatan, yakni penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan 44 perguruan tinggi untuk mendukung program strategis daerah, mulai dari penanganan stunting hingga teknologi desalinasi air siap minum.
Secara statistik, dampak dari sinergi ini mulai membuahkan hasil positif bagi perekonomian warga. Meski tantangan kemiskinan masih ada dengan angka sekitar 3,3 juta jiwa, namun upaya penurunan kemiskinan telah memenuhi target dengan capaian 9,39%.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat mencapai 5,37%, angka yang berada di atas rata-rata nasional. Sektor investasi juga menunjukkan performa gemilang dengan realisasi sebesar Rp88,5 triliun, melampaui target awal sebesar Rp78,3 triliun. Serapan tenaga kerja dari investasi ini mencapai 418.138 orang, menjadikan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan pertumbuhan investasi tertinggi di Pulau Jawa.
Gubernur Jawa Tengah juga aktif menjalin kerja sama internasional dengan menggandeng investor dan pemerintah dari 15 negara, termasuk Singapura, Jerman, Jepang, hingga Uni Emirat Arab. Di level domestik, kerja sama antarprovinsi seperti dengan Jawa Timur dan Lampung diperkuat untuk saling melengkapi potensi daerah.”Hari ini adalah era kolaborasi, bukan sekadar kompetisi. Jawa Tengah memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga provinsi tetangga. Maka, kita harus saling mengisi,” tulis laporan TPPD tersebut.
Di balik capaian tersebut, Pemprov Jawa Tengah mengakui masih banyak pekerjaan rumah, terutama di sektor infrastruktur dan lingkungan. Saat ini, kondisi jalan mantap berada di angka 89,94%, sementara persentase rumah layak huni mencapai 77,19%.
Sektor pertanian menunjukkan ketangguhan dengan produksi padi yang menembus 1,2 juta ton. Namun, bencana alam seperti banjir dan rob masih menjadi ancaman serius. Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 368 kejadian bencana yang menuntut perbaikan daya dukung lingkungan secara masif.
Pemprov Jateng telah melakukan langkah konkret dengan normalisasi sungai di 41 titik, penanaman satu juta mangrove, hingga pengusulan kawasan Gunung Slamet dan Muria sebagai Taman Nasional kepada pemerintah pusat.
Dengan semangat meaningful participation, Jawa Tengah terus bergerak melibatkan anggota legislatif, pelaku usaha, hingga organisasi masyarakat. Kepemimpinan ini diharapkan menjadi kompas dalam mewujudkan visi pembangunan yang terarah dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Oleh : Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah.
Editor : Ahmad Joko SSp. S.H.















