Scroll ke Atas
Berita Utama

Kemenangan Diplomasi Hati: 37 Mantan Pejuang OPM Pulang Damai Berkat Pendekatan Humanis TNI

Joko Longkeyang
2
×

Kemenangan Diplomasi Hati: 37 Mantan Pejuang OPM Pulang Damai Berkat Pendekatan Humanis TNI

Sebarkan artikel ini

TELUK BINTUNI, Emsatunews.co.id – Sebuah babak baru perdamaian terbuka di tanah Papua. Sebanyak 37 warga yang sebelumnya tergabung dalam kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) resmi kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Penyerahan diri ini menandai keberhasilan pendekatan persuasif dan humanis yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Yonif 410/Alugoro, dalam menyelesaikan konflik tanpa pertumpahan darah.

 

Advertisement

Peristiwa bersejarah tersebut terjadi di Pos Mayerga, Distrik Moskona Barat, Kabupaten Teluk Bintuni, pada Rabu (25/6/2026). Di antara rombongan yang pulang tersebut terdapat dua figur kunci, yakni Komandan Batalion Ovir Kodap IV Sorong Raya, Simon Orocomna, dan Komandan Batalion Sair Kodap IV Sorong Raya, Paulinus Muuk. Keduanya didampingi oleh 35 anggota lainnya serta keluarga inti mereka, menunjukkan bahwa keputusan ini didasari oleh keinginan kuat untuk menjamin masa depan anak dan istri yang lebih baik di bawah naungan hukum negara.

Prosesi ini bukan kejadian instan, melainkan hasil dari komunikasi intensif yang berlangsung selama kurang lebih enam bulan. Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Pangkogabwilhan III), Letjen TNI Lucky Avianto, mengungkapkan bahwa inisiatif datang dari kesadaran internal para mantan anggota OPM sendiri. “Prosesi kembalinya saudara-saudara kita beserta keluarga sebanyak 37 orang berlangsung cukup panjang, sekitar 6 bulan, yang dilakukan dengan pendekatan persuasif dan humanis serta penuh kesabaran,” ujar Letjen Lucky saat memimpin upacara pengukuhan.

Baca Juga :  Viral konvoi Genk Motor di Pekalongan, Polisi Amankan 13 Remaja

Setelah penjemputan di Pos Mayerga, rangkaian acara dilanjutkan dengan upacara formal di Lapangan Makodam Kodam XVIII/Kasuari. Dalam momen sakral tersebut, para mantan anggota OPM mengucapkan ikrar setia kepada NKRI. Sebagai simbol putusnya hubungan dengan gerakan separatis, mereka menyerahkan bendera Bintang Kejora serta enam pucuk senjata api. Menariknya, salah satu senjata yang diserahkan merupakan senjata organik milik aparat keamanan yang sebelumnya pernah dirampas dan digunakan dalam aksi penyerangan terhadap personel TNI. Pengembalian senjata ini menjadi simbol restitusi dan penghormatan terhadap institusi negara.

Baca Juga :  Hendak Tawuran Gunakan Senjata Tajam Tiga Remaja Di Kendal Diamankan Tim UKL Polres Kendal

Upacara dihadiri oleh jajaran petinggi daerah dan militer, termasuk Gubernur Papua Barat, Pangdam XVIII/Kasuari, Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Papua Barat, Ketua DPR Papua Barat, serta Komandan Yonif 410/Alugoro Letkol Inf Sudarmanto, S.IP., M.I.P. Kehadiran unsur Forkopimda ini menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap proses reintegrasi tersebut.

Keberhasilan Yonif 410/Alugoro membuktikan bahwa pendekatan kesejahteraan dan keamanan masyarakat (win-win solution) lebih efektif daripada operasi militer murni. Dengan membangun kepercayaan melalui dialog dan jaminan keselamatan, Satgas Pamtas berhasil meruntuhkan tembok ketakutan yang selama ini dipelihara oleh narasi perpecahan.

Dengan kembalinya 37 eks anggota OPM ini, diharapkan stabilitas keamanan di Kabupaten Teluk Bintuni dan wilayah Papua Barat secara umum akan semakin kondusif. Hal ini akan membuka jalan bagi percepatan pembangunan infrastruktur dan ekonomi, sehingga masyarakat dapat hidup aman, damai, dan sejahtera. Kasus ini menjadi preseden baik bahwa pintu maaf dan penerimaan selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali mengabdi pada bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.*( Joko Longkeyang).