PEMALANG — Garis takdir dan kesuksesan hidup seseorang tidak pernah ada yang tahu. Bagi Alifiyah Hamidah, seorang mahasiswi Program Studi S1 Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Terbuka (UT) Semarang Pokjar/Salut Pemalang, roda kehidupan yang berputar terjal justru membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan sarat prestasi.
Meski sempat diuji oleh rintangan berat termasuk perundungan di masa sekolah hingga harus merelakan kursi kuliah di kampus negeri favorit demi berbakti kepada orang tua, Alifiyah kini sukses membuktikan taringnya di kancah nasional. Perempuan asal Jawa Tengah ini berhasil terpilih sebagai Finalis Duta Sastra Indonesia Batch 3 mewakili Provinsi Jawa Tengah pada Juli 2026.
Mengubah Perundungan Menjadi Prestasi
Perjalanan hidup Alifiyah tidak didapat dengan mudah. Saat mengenyam pendidikan di SMP Negeri 5 Taman, ia sempat menjadi korban perundungan karena sifatnya yang pendiam. Namun, alih-alih terpuruk atau membalas dengan keburukan, Alifiyah memilih mengalihkan energinya untuk memacu prestasi akademik hingga dipercaya guru membantu rekan-rekan sejawatnya belajar.
Memasuki jenjang madih di MAN Pemalang, Alifiyah yang semula menyukai bidang sains justru ditempatkan di jurusan Keagamaan. Menghadapi tantangan lintas minat, ia melipatgandakan semangat belajarnya. Ketekunan tersebut membuahkan hasil nyata saat ia dipercaya mewakili sekolah dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten untuk bidang Matematika.
Tak berhenti di sana, Alifiyah kemudian sukses menyabet Juara III Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Bidang Matematika Tingkat Kabupaten Pemalang, yang mengantarkannya bersaing hingga ke tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Ujian Berat dan Pengorbanan Demi Ibu
Memasuki akhir masa sekolah menengah, Alifiyah diuji secara bertubi-tubi. Setelah menjadi korban kejahatan siber berupa peretasan akun media sosial, ia harus menghadapi kenyataan pahit saat ibundanya terserang gejala stroke ringan.
Di tengah situasi emosional tersebut, Alifiyah sebenarnya sempat mencatatkan pencapaian besar dengan lolos melalui Jalur Mandiri Prestasi di Program Studi S1 Statistika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kendati demikian, panggilan jiwa sebagai anak perempuan pertama membuatnya mengambil keputusan besar: mengundurkan diri dari UNY demi merawat sang ibu di kampung halaman.
”Saya memilih pulang karena ibu saya masih membutuhkan pendampingan. Saya merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat beliau,” ungkap Alifiyah dalam catatan refleksinya. Pengorbanan tulus itu berbuah manis seiring pulihnya kesehatan sang ibunda.
Bersinar Bersama Universitas Terbuka dan Duta Sastra
Setelah melewati masa jeda (gap year), Alifiyah melanjutkan langkah akademiknya di Universitas Terbuka. Di kampus ini, ruang geraknya tidak terbatas. Ia terus aktif mengikuti berbagai ajang kedirgantaraan mahasiswa, termasuk menembus semifinal DISPORSENI UT bidang Matematika, dan kini tengah merancang proposal Business Plan and Digital Entrepreneur.
Kini, melalui ajang Duta Sastra Indonesia Batch 3, Alifiyah membagikan kisah hidupnya untuk menginspirasi generasi muda di seluruh Indonesia. Ia menekankan bahwa kesuksesan sejati bukan sekadar deretan trofi, melainkan keberanian untuk bangkit setiap kali terjatuh dan ketulusan dalam menerima perubahan takdir.
Kisah Alifiyah Hamidah menjadi bukti nyata bahwa langkah kecil yang diambil dengan konsistensi dan keikhlasan mampu membawa perubahan besar yang bermakna bagi lingkungan sekitar.( Joko Longkeyang).















