PEMALANG, Emsatunews.co.id — Tepuk tangan dan senyum bahagia keluarga mengiringi satu per satu wisudawan Institut Agama Islam Pemalang (INSIP) menuju podium. Mengenakan toga, sebanyak 211 mahasiswa resmi menyandang gelar sarjana setelah menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S-1).

Momen tersebut berlangsung dalam Wisuda XXIII INSIP Pemalang melalui Sidang Senat Terbuka, Sabtu (29/8/2026). Bagi para wisudawan, prosesi ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan penanda berakhirnya satu fase pendidikan sekaligus awal perjalanan baru di tengah masyarakat.
Suasana haru terasa ketika para orang tua dan keluarga menyaksikan putra-putri mereka menerima hasil perjuangan selama menempuh pendidikan. Perjalanan yang diwarnai perkuliahan, tugas, ujian, penelitian, hingga penyelesaian studi akhirnya bermuara pada satu momentum penting: wisuda.

Sidang Senat Terbuka tersebut dihadiri keluarga besar INSIP Pemalang, Plt. Bupati Pemalang Nurkholes, Sekda Bagus Sutopo, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), pimpinan perguruan tinggi dari Pemalang maupun luar daerah, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta keluarga para wisudawan.
Rektor: Gelar Sarjana Bukan Akhir Perjalanan
Rektor INSIP Pemalang, Dr. Hj. Amiroh, M.Ag., menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan atas keberhasilan 211 mahasiswa menyelesaikan pendidikan.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tidak hanya bagi para wisudawan, tetapi juga bagi keluarga dan seluruh civitas akademika INSIP Pemalang. “Kami sangat terharu dan bahagia atas pencapaian dan semangat pada Wisuda XXIII ini,” ujar Amiroh dalam sambutannya.
Namun, ia mengingatkan bahwa gelar akademik yang diperoleh para wisudawan bukanlah akhir dari proses belajar. Justru setelah meninggalkan kampus, para lulusan akan menghadapi ruang pembelajaran yang lebih luas. Tantangan kehidupan, dunia kerja, serta dinamika masyarakat menuntut setiap sarjana untuk terus meningkatkan kemampuan dan menjaga integritas.
” Kami berharap para alumni mampu menjadi pribadi yang cerdas dalam berpikir, bijak dalam bersikap, kuat menghadapi tantangan, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan. Semoga sukses menjadi pejuang keadilan, pejuang dalam pendidikan di mana pun berada,” pesannya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para mahasiswa dan keluarga yang telah memberikan kepercayaan kepada INSIP Pemalang sebagai tempat menempuh pendidikan.

INSIP Bersiap Bertransformasi Menuju Universitas
Dalam pidatonya, Amiroh juga menyinggung perjalanan kelembagaan INSIP Pemalang yang tengah diarahkan menuju transformasi menjadi universitas.
Menurut dia, transformasi tersebut bukan semata-mata perubahan bentuk kelembagaan. Lebih jauh, proses tersebut menjadi bagian dari upaya membangun institusi pendidikan tinggi Islam yang semakin adaptif, unggul, dan mampu menjawab kebutuhan zaman. “Transformasi menuju universitas adalah sebuah amanah sekaligus tanggung jawab besar,” katanya.
Karena itu, seluruh keluarga besar kampus didorong menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
Para wisudawan XXIII pun disebut sebagai bagian dari sejarah perjalanan transformasi tersebut.
Amiroh berpesan agar para alumni tetap menjaga nama baik almamater di mana pun berada. Menurutnya, kebanggaan terhadap kampus tidak cukup hanya dengan menjadi alumni, tetapi harus dibuktikan melalui prestasi, integritas, profesionalitas, dan kontribusi nyata.
Alumni Diminta Tidak Berhenti di S-1
Di hadapan para wisudawan, Rektor INSIP Pemalang juga mendorong lulusan untuk tidak berhenti pada pendidikan jenjang sarjana. Ia mengajak para alumni mempertimbangkan melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister (S2) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dan memperluas kapasitas profesional.
Menurutnya, kebutuhan terhadap sumber daya manusia terus berkembang. Dunia kerja dan masyarakat membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, melakukan penelitian, memecahkan persoalan, berkolaborasi, serta memiliki kemampuan kepemimpinan.
Karena itu, INSIP Pemalang memberikan kesempatan bagi para lulusan untuk melanjutkan pendidikan Magister. Ia juga menyebut terdapat kebijakan biaya khusus bagi wisudawan yang ingin meneruskan pendidikan ke jenjang tersebut. Kesempatan itu, menurutnya, merupakan bentuk apresiasi sekaligus upaya kampus untuk tetap membersamai perjalanan akademik para alumninya.”Alumni tetaplah keluarga besar kami,” ujarnya.
Dari Kampus Menuju Masyarakat
Pesan utama yang disampaikan dalam Wisuda XXIII INSIP Pemalang adalah pentingnya menjadikan ilmu sebagai kekuatan untuk memberikan manfaat.
Wisuda, kata Amiroh, bukan sekadar titik akhir masa mahasiswa. Setelah prosesi akademik selesai, para lulusan justru memasuki fase yang lebih besar, yakni mengimplementasikan ilmu di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan para alumni untuk menjaga nama baik diri, keluarga, dan almamater.”Di tempat kerja, jadilah profesional. Di tengah masyarakat, jadilah teladan. Di tengah keluarga, jadilah kebanggaan dan dalam kehidupan, jadilah manusia yang memberikan manfaat,” pesannya.
Dengan demikian, gelar sarjana diharapkan tidak berhenti sebagai identitas akademik. Gelar tersebut harus menjadi amanah yang diwujudkan melalui karya, pengabdian, profesionalitas, dan kontribusi kepada masyarakat.
Sebanyak 211 lulusan kini resmi menyandang status sebagai alumni INSIP Pemalang. Mereka meninggalkan ruang-ruang akademik dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan.
Babak berikutnya telah dimulai. Dari kampus menuju masyarakat, dari ilmu menuju amal, dan dari prestasi menuju kontribusi. Wisuda XXIII INSIP Pemalang menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak berhenti ketika toga dilepas. Sebab, wisuda bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian. ( Joko Longkeyang )














