SEMARANG, Emsatunews.co.id – Gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah, membuktikan bahwa ajang keagamaan mampu melampaui sekat perbedaan. Berlangsung pada Jumat malam (11/9/2026), Malam Ta’aruf perhelatan akbar ini menjelma menjadi pesta rakyat yang hangat dan memeluk seluruh elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa syiar Al-Qur’an di Indonesia selalu membawa pesan kebersamaan dan kedamaian. Menurutnya, keterlibatan warga nonmuslim dalam menyambut kafilah dari 37 provinsi menjadi bukti nyata tingginya toleransi di Tanah Air.
”MTQ dimeriahkan bukan hanya oleh umat Islam, tetapi juga menjadi pesta rakyat bagi masyarakat dari semua agama. Inilah Indonesia,” ujar Nasaruddin saat memberikan arahan pada Malam Ta’aruf MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang.
Nasaruddin mencontohkan potret toleransi serupa pernah terjadi pada Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) di Manokwari yang melibatkan panitia muslim. Sebaliknya, pada MTQ tingkat Provinsi Sulawesi Utara, kelompok paduan suara gereja turut melantunkan Mars MTQ dengan penuh sukacita.
Kini, Kota Semarang mengulang sejarah manis tersebut. Antusiasme warga menyambut ribuan tamu luar daerah menciptakan ruang perjumpaan sosial yang mencairkan sekat identitas.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan rasa bangga atas kepercayaan yang kembali diraih daerahnya setelah 47 tahun. Terakhir kali Jawa Tengah menjadi tuan rumah ajang serupa yakni pada 1979.
”Mewakili masyarakat Jawa Tengah, kami ucapkan selamat datang. MTQ Nasional ini memiliki makna mempersatukan kita yang berasal dari berbagai wilayah geografis Indonesia,” ungkap Luthfi.
Dampak positif gelaran ini tak hanya merawat kerukunan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi daerah. Luthfi mencatat lebih dari 7.831 tamu memadati Kota Semarang, membuat keterisian hotel melonjak tinggi dan usaha rental kendaraan laris manis.
Secara teknis, Sekretaris Umum LPTQ Nasional Muchlis Muhammad Hanafi menjelaskan bahwa MTQ XXXI ini diikuti oleh 2.242 peserta yang bertanding dalam 8 cabang dan 24 golongan. Untuk menjaga akuntabilitas, sebanyak 155 dewan hakim profesional diterjunkan langsung guna menilai seluruh rangkaian lomba secara transparan.( Joko Longkeyang).














