Berita UtamaPendidikan

Madrasah di Perkotaan Sulit Cari Murid, Dr. Arief Ungkap Jawabannya

Fahroji
9
×

Madrasah di Perkotaan Sulit Cari Murid, Dr. Arief Ungkap Jawabannya

Sebarkan artikel ini

“Yang menarik keempat, Grassroots-Authentic. Model ini tidak mewajibkan lembaga pendidikan menonjol di bangunan modern nan megah, namun bertumpu pada biaya terjangkau, keteladanan guru, kekuatan tokoh, dan kedekatan sosial,” jelasnya.

Pembicara berbagai forum manajemen pemasaran pendidikan itu menegaskan, keempat model tersebut bukan tingkatan yang menunjukkan madrasah satu lebih baik daripada lainnya.

“Keempatnya bukan peringkat. Madrasah rakyat tidak lebih rendah daripada madrasah premium. Ukurannya adalah kesesuaian strategi dengan kebutuhan masyarakat, kemampuan lembaga, dan mutu yang diberikan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kabar Baik IPM Brebes Naik Dua Tingkat, Tak Lagi Paling Buncit

Karena itu, madrasah berbasis tahfiz, misalnya, harus mampu menunjukkan metode pembelajaran, target capaian, kompetensi guru, dan perkembangan siswa. Keunggulan tidak cukup ditulis dalam spanduk, tetapi harus dirasakan orang tua.

Baca Juga :  Gus Yasin Puji Gen Z Semarang yang Mahir Mendalang di HUT Ke-4 Sindhu Laras Bocah

Kepala madrasah tiga periode yang pernah meraih penghargaan Kepala Madrasah Berprestasi dari Kantor Kemenag Kota Semarang itu juga menekankan pemasaran tidak berhenti pada penerimaan peserta didik baru. Reputasi, pelayanan orang tua, jejaring kemitraan, hingga fundraising turut menentukan keberlanjutan lembaga.

“Fundraising tidak dimulai dengan meminta dana. Lembaga harus lebih dahulu mempunyai program yang jelas, pelaporan yang terbuka, dan pengelolaan yang dipercaya,” katanya.

Arief menyatakan, pembenahan tata kelola dan pelayanan merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat.

Baca Juga :  Ekonomi Jateng Melejit 5,37 Persen, Ahmad Luthfi Siapkan Visi Swasembada Pangan 2026

Peneliti BRIN: Pemasaran Perlu Berbasis Riset

Terpisah, Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Aji Sofanudin, menilai pemasaran madrasah perlu melampaui aktivitas promosi penerimaan peserta didik baru.

“Strategi pemasaran yang baik harus berbasis pada pemetaan kebutuhan masyarakat dan kemampuan internal lembaga. Madrasah perlu mengetahui keunggulan yang benar-benar dimiliki, kemudian menerjemahkannya menjadi program pendidikan dan pelayanan yang relevan,” ujarnya.

Peneliti yang juga doktor Manajemen Pendidikan tersebut menilai pendekatan yang dikembangkan Arief menarik karena mempertemukan profesionalitas manajemen dengan karakter dan nilai spiritual madrasah.