“Ke depan, tantangannya adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi praktik pengelolaan yang terukur. Riset pemasaran pendidikan perlu menjadi dasar bagi madrasah dalam menentukan program unggulan, memperbaiki pelayanan, membangun kepercayaan masyarakat, dan menjaga keberlanjutan lembaga,” katanya.
Terbukti pada Lembaga Pendidikan di Grobogan
Pentingnya membaca kebutuhan masyarakat juga terlihat dari perkembangan lembaga pendidikan yang dikelola Misbachul Munir di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.
Dirintis dari skala kecil, lembaga tersebut kini menaungi layanan penitipan anak, playgroup, TK, SD, hingga PKBM.
“Awalnya kami tidak langsung memiliki banyak unit pendidikan. Lembaga tumbuh bertahap karena kami terus membaca kebutuhan masyarakat dan menyesuaikan layanan. Promosi tetap penting, tetapi masyarakat bertahan dan merekomendasikan lembaga karena merasakan manfaatnya,” kata Munir.
Ia mengaku kerap berdiskusi dengan Arief sebagai konsultan di lembaganya mengenai pengembangan dan strategi pemasaran pendidikan.
“Yang kami bahas bukan sekadar bagaimana membuat masyarakat tertarik, tetapi apa yang harus dibenahi agar lembaga benar-benar layak dipilih. Ketika program kuat, pelayanan baik, dan orang tua percaya, promosi berjalan lebih alami melalui rekomendasi masyarakat,” ujarnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan lembaga pendidikan tidak cukup mengandalkan promosi. Sebelum mengeluarkan lebih banyak biaya untuk iklan, madrasah perlu memastikan program, pelayanan, dan keunggulannya memang menjawab kebutuhan orang tua.













