Berita Utama

Anak Ojek hingga Buruh Tani Sekolah Gratis, Gubernur Luthfi: Ora Usah Minder!

Joko Longkeyang
11
×

Anak Ojek hingga Buruh Tani Sekolah Gratis, Gubernur Luthfi: Ora Usah Minder!

Sebarkan artikel ini

SEMARANG, Emsatunews.co.id – Senyum lebar tak lepas dari wajah Rafa Fidianto saat pertama kali mengenakan seragam SMA di hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2026). Putra seorang pengemudi ojek itu nyaris kehilangan harapan melanjutkan pendidikan, namun kini berdiri tegak di SMA Laboratorium UPGRIS berkat Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Rafa sempat gagal diterima di sekolah negeri karena nilai yang belum memenuhi syarat. Namun kesempatan itu datang melalui program yang menjamin pendidikan gratis bagi anak dari keluarga kurang mampu. Di momen itu, ia pun disapa langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.“Saya sempat daftar ke sekolah negeri, tetapi nilainya belum cukup. Sekarang saya senang bisa sekolah di sini dan punya banyak teman,” ujar anak pertama dari dua bersaudara ini. Rafa pun berharap kelak bisa menjadi prajurit TNI untuk membanggakan kedua orang tuanya.

Advertisement

Cerita serupa datang dari Noval Surya Saputra yang didampingi ibunya, Mutiari Setyawati. Awalnya Noval ingin bersekolah di negeri, namun jarak rumah di Bandungan menjadi kendala. Lewat program ini, ia kini menempuh pendidikan di lokasi yang lebih terjangkau tanpa biaya.“Alhamdulillah kami sangat terbantu. Sebagai orang tua, saya terus memotivasi anak agar jangan sampai minder,” ujar Mutiari yang kini berjuang sendiri mengurus anak setelah berpisah dengan suami.

Baca Juga :  Koramil 03/Serengan Gandeng PLKB Tekan Kasus Stunting di Wilayahnya

Harapan sama tersimpan di hati seorang ibu buruh tani yang penghasilannya hanya Rp50.000 hingga Rp70.000 per hari. Ia kini mengasuh anak ketiganya tanpa kehadiran ayah, dan nyaris tak sanggup membiayai pendidikan. Program Sekolah Kemitraan menjadi jalan keluar yang dinanti. “Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah dan masih mau sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan dan tidak seperti ibunya,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Mendengar kisah-kisah perjuangan itu, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa negara harus hadir menjamin hak pendidikan setiap warga. Ia berpesan tegas kepada seluruh siswa:“Boleh kita punya sekolah yang berbeda. Boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat!” serunya. “Mereka harus tetap sekolah, tidak boleh putus sekolah. Sekolah tidak boleh berhenti hanya karena kondisi keluarga kurang mampu,” tambah Luthfi.

Baca Juga :  Komisi C DPRD Pemalang Bahas Raperda Perubahan APBD 2024, Fokus pada Peningkatan PAD  

Pada Tahun Ajaran 2026/2027, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan 139 sekolah swasta—terdiri atas 56 SMA dan 83 SMK—dalam program ini. Sebanyak 3.663 siswa diterima, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 2.390 siswa. Khusus di Kota Semarang, ada 51 siswa yang mendapatkan kesempatan ini: 24 di SMA Laboratorium UPGRIS, 21 di SMK Bina Nusantara, dan enam di SMK Ibu Kartini.

Selain biaya pendidikan gratis, hari itu juga diserahkan bantuan perlengkapan sekolah dan sepatu bagi 55 siswa, serta paket sembako bagi orang tua melalui Baznas Jawa Tengah.

Luthfi juga mengingatkan seluruh tenaga pendidik agar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung aman dan nyaman. “Tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada lagi perundungan, apalagi sampai menimbulkan rasa minder. Sekolah harus menjadi tempat menyenangkan,” tegasnya.

Di akhir kunjungan, ia berpesan agar kesempatan berharga ini dimanfaatkan sebaik mungkin. “Pendidikan bukan sekadar meraih cita-cita, tapi sarana memutus rantai kemiskinan dan mengangkat derajat keluarga. Jadilah anak berbakti, berilmu, dan mampu mengubah nasib menjadi lebih baik,” pungkasnya.*( Joko Longkeyang).