Berita UtamaDaerahPemalang

Ribuan Warga Padati Kirab Budaya Slumpring Cibuyur, Tradisi dan Ekonomi Bersatu di Pemalang

Joko Longkeyang
13
×

Ribuan Warga Padati Kirab Budaya Slumpring Cibuyur, Tradisi dan Ekonomi Bersatu di Pemalang

Sebarkan artikel ini

PEMALANG, Emsatunews.co.id — Suasana Desa Cibuyur, Kecamatan Warungpring, Kabupaten Pemalang, berubah menjadi lautan manusia pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Ribuan warga memadati jalan raya Cibuyur untuk menyaksikan Kirab Budaya Slumpring 2026, sebuah perayaan syukur sekaligus upaya pelestarian tradisi yang kian tumbuh dan dirindukan masyarakat.

Sejak pukul 14.00 WIB, barisan kirab mulai bergerak dari Balai Desa Cibuyur. Di barisan depan berjalan para pejabat daerah, camat, dan perangkat desa. Di belakangnya menyusul parade kostum dan kreasi berbahan bambu, kerajinan tangan, hingga gunungan hasil bumi yang nantinya diperebutkan warga. Warga tumpah ke pinggir jalan, ada yang membawa anak-anak, ada pula yang merekam momen tersebut dengan ponsel. Sepanjang rute, panitia menyediakan pengamanan untuk membatasi jalur penonton. Lantunan sholawat yang mengiringi barisan membuat suasana seremonial dan religius semakin kental.

Tiba dilapangan Des Cibuyur, Kepala Desa Cibuyur, Yoyok Kusnodo, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. “Puji syukur ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat-Nya, kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat walafiat,” ujarnya. Ia berharap Festival Kirab Budaya Slumpring ini dapat terus diselenggarakan setiap tahun dan mendapat dukungan dari seluruh instansi, baik eksekutif maupun legislatif, agar tradisi luhur ini tetap terjaga dan menjadi kebanggaan bersama.

Baca Juga :  Manajemen PO Rosalia Indah Tegaskan Tidak Ada Kaitan dengan Bus KYM Trans yang Kecelakaan

Ditempat yang sama Plt. Bupati Pemalang, Nurcholes, dalam sambutannya mengapresiasi semangat warga Cibuyur. Ia menekankan bahwa kirab budaya bukan sekadar hiburan, melainkan cara menjaga identitas desa agar tidak terkikis zaman. “Pemerintah daerah mendukung penuh kegiatan seperti ini. Budaya adalah jati diri kita. Kalau kita lestarikan, maka desa akan semakin kuat dan dikenal,” ujarnya.

Lebih jauh, Nurcholis menyoroti makna nama “Slumpring” dan filosofi bambu yang menjadi identitas kegiatan tersebut. “Bambu bagi masyarakat Cibuyur bukan sekadar tanaman, tetapi bagian dari sejarah dan kehidupan masyarakat. Dahulu banyak yang mengandalkan kerajinan bambu, dan hari ini bambu kembali diangkat menjadi karya kreatif,” jelasnya. Bambu, kata dia, mengajarkan kita untuk lentur namun kuat, dan semakin kuat ketika tumbuh bersama dalam satu rumpun — sama halnya dengan masyarakat yang bersatu dan bergotong royong.

Baca Juga :  Status Gunung Slamet Naik Menjadi Waspada, Bupati Pemalang Tinjau Gardu Pantau

Ia berharap Kirab Budaya Slumpring tidak hanya menjadi acara tahunan, tetapi berkembang menjadi ikon budaya dan wisata Kabupaten Pemalang. “Desa Cibuyur memiliki modal budaya, kesenian, tradisi, hasil bumi, kerajinan bambu, UMKM, dan masyarakat yang mau bergerak bersama. Kalau dikembangkan dengan baik, orang akan datang melihat budaya, membeli produk lokal, dan membawa cerita tentang Cibuyur ke daerah mereka,” ujarnya.

Kepada generasi muda, pesannya tegas: jangan malu dengan budaya sendiri. Manfaatkan teknologi dan media digital untuk memperkenalkan budaya dan karya lokal kepada masyarakat luas.

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Plt. Bupati Pemalang secara resmi membuka Kirab Budaya Slumpring Tahun 2026. Semoga kegiatan ini terus tumbuh, membawa keberkahan, dan menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus menjaga warisan leluhur tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah. ( Joko Longkeyang).