Berita UtamaDaerahPemalang

Cerita dari Lereng Sumbing: Berjibaku Jinakkan Api dengan Tangan Kosong

Joko Longkeyang
4
×

Cerita dari Lereng Sumbing: Berjibaku Jinakkan Api dengan Tangan Kosong

Sebarkan artikel ini

TEMANGGUNG, Emsatunews.co.id — Ketika api mulai menjalar di lereng Gunung Sumbing, tak ada helikopter yang datang seketika. Tak ada truk pemadam yang bisa naik ke puncak bukit terjal. Yang ada hanyalah warga, relawan, sebatang kayu di tangan, dan keberanian yang tak kalah besar dari si jago merah yang sedang mengamuk. Inilah kisah heroik dari kawasan Gunung Sumbing — tentang manusia yang berdiri tegak melawan api, dengan cara yang paling sederhana namun penuh pengorbanan.

Perjuangan Dimulai dari Kabar yang Datang Senin Sore

Jumari, atau akrab disapa Petruk, adalah Wakil Ketua Basecamp Pendakian Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung. Saat ditemui di posko pascakebakaran, Minggu, 25 Oktober 2026, ia mengenang bagaimana semuanya bermula.”Kebakaran dimulai sekitar pukul 16.00 pada Senin. Kami mendapat kabar dari sisi Wonosobo. Selasa pagi, langkah pertama kami bukan memadamkan api, tapi memastikan keselamatan pendaki yang masih berada di atas, termasuk di kawasan Segoro Wedhi,” kenang Petruk usai berdialog dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Setelah semua pendaki turun dengan selamat, barulah perjuangan sesungguhnya dimulai. Rabu, mereka menyelamatkan aset-aset jalur pendakian patok penanda, kamera pengawas, dan fasilitas lain yang terancam dilalap api. Kamis, personel Bimawari bergabung dengan relawan Basecamp Batursari menaklukkan titik api di sisi lain. Jumat, mereka bergerak lagi bersama tim dari Banaran menuju kawasan Jalur Cepit dan Glapansari. Akhirnya, pada Sabtu, 24 Oktober 2026, kabar yang dinanti datang: api padam 100 persen. Pendinginan pun dilakukan di kawasan Segoro Wedhi.

Baca Juga :  Babinsa Senting Turut Kerja Bhakti Pembangunan Ponpes Miftahul Huda

Medan Terjal, Angin Kencang, dan Kayu di Tangan

Memadamkan api di gunung bukan seperti memadamkan api di dataran rendah. Di ketinggian, angin berubah menjadi musuh terbesar.”Kendala terbesar adalah angin. Di atas sana sangat kencang, sehingga api cepat sekali menjalar dan sulit dikendalikan. Belum lagi medannya terjal, banyak jurang. Ada titik api yang berada tepat di tepi jurang, kami harus memutar jauh untuk mencapainya. Semuanya dilakukan secara manual, hanya bermodalkan kayu,” cerita Petruk dengan nada tenang, seolah tak ingin terlalu dibesarkan perjuangannya itu.

Pengalaman menjadi guru terbaik. Kebakaran besar serupa pernah melanda kawasan ini pada tahun 2019. Bekal pengalaman itulah yang membuat koordinasi berjalan lebih kali ini. Namun, harapan tetap besar: kedepannya, para relawan tak hanya mengandalkan keberanian dan pengalaman, tetapi juga dukungan peralatan yang layak.

Embung, Jalur Penyelamatan, dan Mata Air yang Terancam

Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji, menyampaikan hal yang lebih mendalam. Kebakaran di Sumbing memiliki pola berulang dalam rentang delapan tahun. Jika tidak ditangani akarnya, api akan kembali datang. Dan dampaknya tak sekadar hutan gundul.”Setiap kebakaran, debit mata air kita ikut menurun. Pemulihannya butuh dua hingga tiga tahun. Saat kemarau, warga kesulitan air bersih,” ungkap Agus di hadapan Gubernur Luthfi.

Baca Juga :  Tim 6 Personil Polres Brebes Kawal Percepatan Vaksinasi Untuk Masyarakat Lansia di Kecamatan Wanasari

Ia mengusulkan pembangunan embung di kawasan Perhutani. Tak hanya berguna saat pemadaman, embung juga menjaga ketersediaan air bagi warga saat musim kemarau tiba. Jalur penyelamatan yang lebih baik juga sangat dibutuhkan agar mobilisasi tim cepat mencapai titik terjauh. Di desanya sendiri, warga telah membangun sekitar 200 sumur resapan untuk menjaga sumber air tetap hidup.

Drone, Peralatan, dan Harapan agar Ini yang Terakhir

Harapan warga bukan sekadar memadamkan api, tetapi mencegahnya sejak dini. Muhadi, warga Desa Wonosari, mengusulkan pengadaan drone pemantau dan peralatan dasar yang dikelola masing-masing basecamp.”Kalau ada drone, titik api bisa terdeteksi lebih awal. Peralatan itu juga bisa dipakai saat ada pendaki yang tersesat atau hilang. Bukan hanya soal kebakaran,” ujarnya tulus.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyambut baik seluruh masukan tersebut. “Evaluasi pascabencana harus menyeluruh. Mulai dari air bersih, reboisasi, hingga penguatan kesiapsiagaan berbasis data yang akurat,” tegasnya.

Padamnya api di Gunung Sumbing adalah kemenangan besar bagi para relawan dan warga lereng gunung. Namun mereka sadar: api yang padam bisa menyala lagi jika akarnya belum diputus. Dan akar itu bukan hanya di puncak gunung, tetapi di sini di kesadaran, kesiapan, dan kepedulian kita bersama.( Joko Longkeyang).