Ekbis

Pemerintah Pacu Daya Saing Tekstil: Prabowo Buka Jalan Peremajaan Mesin hingga Berantas Impor Ilegal

Fahroji
74
×

Pemerintah Pacu Daya Saing Tekstil: Prabowo Buka Jalan Peremajaan Mesin hingga Berantas Impor Ilegal

Sebarkan artikel ini
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.(Foto: BPMI)

EMSATUNEWS.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional di tengah tantangan ketidakpastian ekonomi global. Sektor padat karya ini dinilai memegang peranan strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus menyerap jutaan tenaga kerja di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah mengarahkan kementerian terkait untuk memetakan dan menyelesaikan berbagai hambatan yang menghambat kinerja industri TPT dari hulu ke hilir.

“TPT ini tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu mencapai 5,6 persen. Sumbangannya terhadap perekonomian sebesar 0,97 persen dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 4 juta orang serta nilai ekspor USD 12 miliar,” kata Airlangga usai rapat di Istana Negara, Selasa (22/9).

Baca Juga :  Menhan Prabowo Subianto Berikan Kuliah Umum di UMM

Baca Juga :  Rektor Paramadina: Hukum yang Buruk Bisa Menghancurkan Ekonomi Nasional

Guna mengoptimalkan utilisasi pabrik yang saat ini masih berada di angka 75 persen, pemerintah menyiapkan beberapa langkah konkret:

Pertama pemerintah merevisi aturan teknis (pertek) untuk mempermudah akses bahan baku industri, sekaligus menyelaraskan bea masuk antidumping agar tidak memberatkan produsen garmen lokal.

Kedua Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan diperintahkan menertibkan serbuan barang impor ilegal di pasar domestik yang menggerus daya saing produsen dalam negeri.

Baca Juga :  Gebrakan Ekonomi Kaligelang: Koperasi Desa Merah Putih Mulai Dibangun

Ketiga pemerintah memilah industri TPT menjadi beberapa subsektor (tekstil, pakaian, kulit, dan alas kaki) guna memastikan intervensi kebijakan lebih tepat sasaran—terutama membenahi neraca dagang bahan baku tekstil yang masih mengalami defisit.

Dari sisi pembiayaan dan modernisasi, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani mengungkapkan bahwa pemerintah berkoordinasi dengan perbankan nasional, khususnya Himpunan Bank Negara (Himbara), untuk menyalurkan kemudahan kredit restrukturisasi.

Baca Juga :  Dilema Kabinet Prabowo dalam Bingkai Koalisi Besar

“Langkah ini penting agar pelaku usaha TPT dapat melakukan peremajaan mesin-mesin tua demi meningkatkan efisiensi dan daya saing (*competitiveness*) produk garmen Indonesia di pasar global,” tegas Rosan.*