Sebagai seorang mualaf, Dounia merasa beruntung lingkungan menerima identitasnya. Namun, hal ini tidak berlaku bagi banyak Muslimah lain.
“Faktanya, hanya sekitar 30 persen wanita Muslim di Jerman yang berani menunjukkan identitasnya dengan berhijab di ruang publik atau tempat kerja. Banyak yang terpaksa menyembunyikan identitas demi menghindari diskriminasi,” ungkap Dounia.
Ia menceritakan pengalaman keponakannya yang harus menerima kenyataan pahit bahwa ia ditolak oleh berbagai perusahaan saat melamar kerja hanya karena berhijab, meskipun memiliki kompetensi yang mumpuni.
“Bukan hanya soal hijab, nama-nama yang terdengar ‘Islami’ pun sering kali menjadi sasaran diskriminasi halus dalam proses rekrutmen,” tambah Dounia.
Menutup ceritanya, Dounia menekankan bahwa cara terbaik melawan Islamofobia adalah dengan membangun komunikasi yang hangat.
Salah satu tradisi unik yang dijalankan masyarakat Muslim di lingkungannya adalah berpartisipasi dalam perayaan Natal dengan cara mereka sendiri.
“Setiap tahun, perempuan Muslim di sini dengan sukarela memasak dan membagikan kudapan bagi para lansia di panti jompo saat Natal. Kami ingin menunjukkan bahwa toleransi adalah berbuat kebaikan untuk siapa saja tanpa memandang agama,” kata Dounia.*















