Emsatunews.co.id, Pemalang – Perjuangan spiritual empat calon jemaah haji (calhaj) asal Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, kini menemui jalan buntu yang menyesakkan. Meski telah merampungkan segala kewajiban administratif dan finansial, mereka terancam kehilangan kursi keberangkatan tahun 2026 akibat kendala sinkronisasi data pada sistem kementerian.
Ahmad Sofi, salah satu jemaah yang terdampak, menceritakan bahwa persoalan ini bermula dari status mereka sebagai jemaah cadangan pada musim haji 2025 (1446 H). Setelah tertunda setahun, harapan kembali membuncah untuk keberangkatan tahun ini. Namun, optimisme itu kini berubah menjadi kecemasan mendalam.
Akar persoalan diduga kuat terletak pada minimnya sosialisasi dan notifikasi dari otoritas terkait. Jemaah mengaku tidak menerima pemberitahuan resmi mengenai keharusan pembaruan (update) laporan data pelunasan ke pihak bank (BSI) untuk diteruskan ke sistem kementerian.
Akibat keterlambatan konfirmasi yang dipicu oleh ketiadaan informasi tersebut, akses mereka di sistem pusat kini dalam status terblokir. “Kami sudah melakukan biovisa, cek kesehatan, hingga dinyatakan istito’ah. Bahkan salah satu dari kami sudah siap mengemban tugas sebagai Ketua Rombongan (Karom),” tutur Ahmad Sofi, Kamis (12/2/2026).
Pihak jemaah menyayangkan sikap pasif Kemenag Kabupaten Pemalang. Menurut mereka, pihak kantor urusan agama seharusnya bisa memberikan peringatan dini, mengingat data kontak jemaah maupun pengurus KBIHU Al-Mabrur tempat mereka bernaung sudah tersedia di basis data pemerintah.
Hingga saat ini, upaya rekonsiliasi yang dilakukan melalui kantor Kemenag setempat belum menemui titik terang. Dalil “regulasi sistem” menjadi alasan utama penolakan keberangkatan mereka. Di sisi lain, jemaah merasa menjadi korban dari kegagalan komunikasi instansi, bukan karena kelalaian pribadi.
Kini, para jemaah berharap ada intervensi dari pihak terkait guna menjembatani kebuntuan ini. Mereka menuntut adanya keadilan sistemik agar kendala teknis tidak serta-merta menghanguskan kesempatan ibadah yang telah dinanti selama bertahun-tahun.( Joko Longkeyang).















