Scroll ke Atas
Berita UtamaMegapolitanNasional

Lawan Krisis Limbah! Jateng Siapkan 3 Aglomerasi untuk Pangkas 3.000 Ton Sampah Per Hari

Joko Longkeyang
9
×

Lawan Krisis Limbah! Jateng Siapkan 3 Aglomerasi untuk Pangkas 3.000 Ton Sampah Per Hari

Sebarkan artikel ini

Emsatunews.co.id, Jakarta – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mengambil langkah revolusioner dalam menangani persoalan sampah yang kian menumpuk. Melalui skema aglomerasi regional, Jawa Tengah kini memfokuskan pengolahan limbah pada tiga titik besar: Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya. Sinergi ini diproyeksikan mampu mereduksi hingga 3.000 ton sampah setiap harinya.

​Komitmen serius ini diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, bersama tujuh kepala daerah dan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Advertisement

​Pekalongan dan Tegal Jadi Pusat Pengolahan Baru

​Dalam kesepakatan terbaru, dua wilayah aglomerasi baru resmi dibentuk untuk memperkuat sistem yang sudah berjalan di Semarang Raya:

Aglomerasi Pekalongan Raya: Mencakup Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, dan Batang. Pusat pengolahan berada di Kota Pekalongan.

Baca Juga :  Gubernur dan Mensos Wisuda 1.000 Keluarga Graduasi PKH di Pemalang

​Aglomerasi Tegal Raya: Meliputi Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Brebes. Fasilitas pengolahan dipusatkan di Kabupaten Tegal.

​Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, memberikan apresiasi tinggi atas progresivitas Jawa Tengah. Saat ini, capaian pengelolaan sampah di Jateng telah menyentuh angka 30%, melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 26%.”Ini adalah tindakan nyata yang berdampak langsung pada pengurangan sampah nasional. Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi dengan manajemen sampah terbaik saat ini,” puji Hanif.

​Percepatan Implementasi dan Teknologi RDF

​Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penandatanganan ini harus segera diikuti dengan eksekusi lapangan. Mengingat volume sampah terus meningkat antara 8 hingga 11 persen per tahun, penanganan secara konvensional sudah tidak lagi mencukupi.”Jika volume sampah sudah di atas 1.000 ton, solusinya adalah zonasi regional. Sementara untuk wilayah dengan volume di bawah itu, kami mendorong penggunaan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) seperti yang sudah diterapkan di Cilacap dan Banyumas,” papar Luthfi.

Baca Juga :  Bupati Respon Cepat Video Viral Terkait Jalan Sidomulyo – Ketingkrang

​Gerakan dari Hulu ke Hilir

​Selain infrastruktur, Pemprov Jateng juga menyiapkan strategi komprehensif lainnya: Pembentukan Satgas Sampah hingga level desa. Transformasi TPA menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Penguatan gerakan Jawa Tengah ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).

​Luthfi mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tidak akan maksimal tanpa peran serta publik. “Kunci utamanya tetap pada kesadaran kolektif masyarakat untuk mulai memilah sampah langsung dari sumbernya,” pungkasnya.*( Joko Longkeyang).