Ia juga mengingatkan agar mahasiswa memanfaatkan AI sebagai asisten, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
“Artificial intelligence itu bisa membuat kecerdasan anda berlipat kali karena punya asisten. Tapi itu asisten, jangan jadi substitute, jadi pendamping,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Anies menjelaskan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kepercayaan. Ia memperkenalkan konsep sederhana mengenai unsur pembentuk kepercayaan, yakni kompetensi, integritas, dan kedekatan, serta mengurangi kepentingan pribadi.
“Trust itu sama dengan competence plus integrity plus intimacy dikurangi self-interest,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa integritas bukan sekadar kejujuran, melainkan kejujuran yang berjalan seiring nilai kebenaran dan kepentingan publik.
“Kalau jujur aja, kepala preman di terminal itu jujur. Tapi dia bertentangan dengan nilai kebaikan dan kepentingan publik,” katanya.
Anies juga mengingatkan pentingnya karakter pembelajar melalui konsep to learn dan to unlearn. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya belajar hal baru, tetapi juga harus siap meninggalkan cara lama yang sudah tidak relevan.
“Yang berat itu bukan belajar hal baru, tapi meninggalkan yang lama,” ujarnya.
Dalam dialog interaktif, Anies menjawab pertanyaan siswa mengenai pentingnya critical thinking di tengah budaya yang sering menganggap pertanyaan sebagai sikap “bawel”.
Ia menilai keberanian bertanya merupakan ciri utama anak muda.















