Scroll ke Atas
ArtikelBerita UtamaDaerahNasionalPemalang

Menguak Rahasia 8 Dzulhijjah: Mbah Sodikin Beberkan Filosofi “Haus Ilmu” di Balik Lahirnya Muhammadiyah

Joko Longkeyang
5
×

Menguak Rahasia 8 Dzulhijjah: Mbah Sodikin Beberkan Filosofi “Haus Ilmu” di Balik Lahirnya Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini

Emsatunews.co.id, Pemalang – Pemilihan tanggal berdirinya organisasi Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan ternyata menyimpan makna spiritual yang sangat mendalam. Hal ini diungkapkan oleh Tokoh Muhammadiyah Kabupaten Pemalang, Mbah Sodikin, saat ditemui dalam sebuah sesi wawancara di Pemalang, Senin (25/5/2026).

​Menurut Mbah Sodikin, penetapan 8 Dzulhijjah 1330 H (bertepatan dengan 18 November 1912 M) bukanlah sebuah kebetulan, melainkan refleksi dari semangat Tarwiyah yang menjadi ruh gerakan.

Advertisement

​Semangat Hari Tarwiyah: Memberi Bukan Meminta

​Mbah Sodikin menjelaskan bahwa 8 Dzulhijjah dikenal sebagai Hari Tarwiyah dalam rangkaian ibadah haji, yang secara harfiah berarti “membekali diri dengan air”. Pada zaman dahulu, para jemaah haji mempersiapkan air sebagai bekal menuju Mina dan Arafah.​”Filosofinya jelas. Muhammadiyah lahir untuk membekali umat. Bukan sekadar bekal air fisik, tapi bekal pemahaman Islam yang murni, ilmu pengetahuan, dan amal nyata,” ujar Mbah Sodikin dengan lugas.

Baca Juga :  Selama Januari-Februari, Polres Pekalongan Amankan 20 Tersangka Tindak Pidana

​Ia juga mengutip pesan legendaris KH Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Kalimat ini, menurutnya, adalah manifestasi nyata dari ruh Tarwiyah—yaitu semangat untuk memberi dan membekali umat, bukan justru membebani.

​Simbol Menuju Puncak Ketauhidan

​Lebih lanjut, Mbah Sodikin memaparkan bahwa posisi 8 Dzulhijjah yang jatuh tepat sebelum Hari Arafah (9 Dzulhijjah) menandakan bahwa organisasi ini dirancang sebagai sarana pengantar umat menuju puncak pengabdian kepada Allah SWT.​”Semua lini yang digerakkan Muhammadiyah, mulai dari pendidikan hingga kesehatan, muaranya hanya satu: membawa umat kembali pada Islam yang lurus sesuai Al-Qur’an dan Sunnah,” tambahnya.

Baca Juga :  Kantor Pertanahan Pemalang Beri Penyuluhan Program PTSL di Desa Pedurungan

​Pemilihan bulan Dzulhijjah juga dinilai memiliki dampak psikologis yang kuat. Di tanah Jawa kala itu, bulan haji merupakan simbol kesucian dan momentum untuk melepaskan diri dari praktik syirik serta bid’ah, sejalan dengan visi pembaruan (tajdid) yang diusung sang pendiri.

​Tiga Ruh Utama Gerakan

​Menutup wawancara, Mbah Sodikin menyimpulkan ada tiga poin utama yang diwariskan dari pemilihan tanggal sakral tersebut bagi warga Muhammadiyah saat ini:

​1. Pembekalan (Tarwiyah): Fokus pada penguatan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan umat.

​2. Pembaruan (Tajdid): Berani kembali ke sumber ajaran asli Islam.

​3. Kerja Kolektif (Amal Jama’i): Mengutamakan gerakan organisasi yang solid layaknya jemaah haji.

​Dengan memahami sejarah ini, diharapkan kader Muhammadiyah, khususnya di Kabupaten Pemalang, dapat terus meneladani jejak Rasulullah ﷺ dalam setiap langkah pengabdian mereka.( Joko Longkeyang).