Semarang,Emsatunews.co.id — Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kian mengkhawatirkan. Kodam IV/Diponegoro tidak tinggal diam. Seluruh kekuatan teritorial mulai dari Korem, Kodim, Koramil, hingga garda terdepan Babinsa resmi disiagakan secara penuh untuk mengantisipasi dan memadamkan amukan si jago merah.

Langkah taktis ini diambil menyusul lonjakan kasus kebakaran yang signifikan. Berdasarkan data hingga akhir Agustus 2026, tercatat sebanyak 232 kejadian Karhutla di Jawa Tengah dengan estimasi lahan dan hutan terdampak mencapai 407 hektare. Sementara itu, wilayah DIY mencatat 46 kejadian dengan luasan hampir 46 hektare, yang bahkan membuat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Yogyakarta menetapkan status Awas untuk seluruh wilayah DIY.
Sinergi Babinsa dan Masyarakat Redam Titik Api
Menghadapi medan yang kering akibat kemarau ekstrem, Kodam IV/Diponegoro mengedepankan strategi pencegahan berbasis teritorial. Panglima Kodam menginstruksikan agar para Babinsa aktif menjadi mata dan telinga di tingkat desa. Mereka tidak hanya berpatroli memantau titik-titik rawan seperti lereng pegunungan, semak belukar, dan kawasan hutan, tetapi juga menggencarkan edukasi kepada warga.
”Pendekatan humanis melalui komunikasi sosial terus kita bangun. Warga diingatkan secara persuasif agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari pembakaran sampah sembarangan yang kerap menjadi pemicu awal bencana,” ujar perwakilan penerangan Kodam IV/Diponegoro.
Respons Cepat dan Kolaborasi Lintas Sektor
Tidak hanya berfokus pada pencegahan, kesiapsiagaan ini juga melibatkan gelar kekuatan personel dan peralatan pemadaman cepat. Ketika laporan kepulan asap atau titik panas (hotspot) muncul, rantai komando langsung bergerak cepat. Koramil bertindak sebagai simpul koordinasi kecamatan, sementara Kodim mengintegrasikan dukungan di tingkat kabupaten bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polri, Perhutani, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta relawan setempat.
Pola penanganan terpadu ini terbukti efektif diterapkan di berbagai daerah rawan seperti Pati, Brebes, Kendal, Blora, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, hingga Kabupaten Gunungkidul. Fokus utama operasi tetap berpegang pada kecepatan deteksi, isolasi titik api, pemadaman dini, hingga tahap pendinginan dan pemantauan pascakebakaran guna memastikan tidak ada bara tersisa.
Melalui optimalisasi teritorial ini, Kodam IV/Diponegoro berkomitmen penuh untuk melindungi keselamatan masyarakat, kelestarian lingkungan, serta mencegah kerugian ekologis dan material yang lebih besar selama musim kemarau 2026 berlangsung. (Pendam IV/Diponegoro)( Joko Longkeyang).














