PEMALANG, Emsatunews.co.id — Kasus kematian tragis seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Randudongkal berinisial AA (14), yang diduga menjadi korban perundungan (bullying) dan kekerasan fisik, memantik perhatian luas dari berbagai pihak. Pemerintah setempat langsung bergerak cepat merespons insiden memilukan ini guna memastikan perlindungan bagi anak-anak di lingkungan pendidikan.
Camat Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Comal Muchammad Maksum, S.IP., M.M., memberikan tanggapan tegas dan imbauan penting saat dikonfirmasi pada Senin (3/8/2026). Ia menekankan perlunya kolaborasi yang erat dari seluruh elemen masyarakat untuk mencegah aksi kekerasan serupa terulang kembali.
”Kami berharap di Kecamatan Comal tidak ada kejadian seperti itu. Sinergi semua elemen harus menjaga jangan sampai lengah !” tegas Comal Muchammad Maksum.
Melalui teguran dan imbauan yang disampaikan oleh Camat Comal, ke depan nya berharap tidak terjadi lagi, insiden ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk memperketat pengawasan moral dan psikologis anak di lingkungan sekolah maupun rumah.
Kronologi Singkat dan Langkah Kepolisian
Peristiwa berpulangnya korban AA bermula pada Senin (27/0/2026) ketika ia mengeluhkan sakit pada bagian tangan dan badan yang tidak enak. Korban sempat dibawa berobat ke puskesmas dan disarankan untuk menjalani rontgen akibat pembengkakan tangan serta sesak napas. Namun, pihak keluarga saat itu memilih opsi pengobatan jalan.
Kondisi kesehatan korban terus memburuk hingga puncaknya pada akhir pekan. Setelah sempat mengalami muntah darah, korban dilarikan ke ruang ICU Rumah Sakit Mardotillah pada Minggu (2/8/2026) sore. Nyawa pelajar malang tersebut tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 19.30 WIB.
Di hadapan aparat gabungan TNI-Polri—termasuk Babinsa Desa Semingkir Sertu Mukhori dan jajaran Polsek Randudongkal yang menerima laporan dari warga—ibu kandung korban, Evi Priyanti (34), menuturkan bahwa sang anak sempat mengaku mengalami perundungan dan kekerasan fisik dari teman-temannya di sekolah.
Saat ini, pihak kepolisian bersama jajaran terkait tengah mengumpulkan data pendukung secara mendalam, termasuk menyarankan dilakukannya autopsi guna mengungkap secara transparan penyebab pasti di balik kematian korban.*( Joko Longkeyang ).















