Emsatunews.co.id, Pemalang – Para pedagang di Pasar Randudongkal kini menghadapi kenyataan pahit bahwa pasar yang seharusnya menjadi pusat perdagangan yang ramai, justru mengalami sepi pengunjung. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi para pedagang, yang akhirnya menyuarakan keluhan mereka dalam Forum Komunitas Pedagang Pasar Randudongkal (FKPPR) yang diadakan di sebuah rumah makan bersama anggota Komisi C DPRD Kabupaten Pemalang serta beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Komisi C DPRD Kabupaten Pemalang hadir langsung dipimpin oleh ketua nya DR. H. Noor Rosyadi, S.E.,M.M., sedangkan OPD terkait Dinas Perdagangan dipimpin langsung oleh Kepala Dinasnya Drs. Fera Djoko Susanto,M.Ap., dengan didampingi oleh kepala bidang dan staf dinas tersebut.
Berbagai keluhan disampaikan oleh para pedagang pasar Randudongkal melalui Ketua FKPPR, Mardiyanto yang dengan tegas bahwa masalah utama yang dihadapi oleh para pedagang adalah sepinya kondisi pasar saat ini. Sepinya pengunjung tersebut kontras dengan suasana pasar lama sebelum dibangun ulang menjadi Pasar Randudongkal yang sekarang berdiri megah dan besar. “Pasar Randudongkal dengan segala kemegahannya, tetap tidak dapat menarik minat pengunjung seperti dulu. Ini menjadi masalah serius bagi kelangsungan usaha kami,” ujarnya.
Mardiyanto menekankan bahwa sepinya pasar ini sangat erat kaitannya dengan restrukturisasi pasar yang terjadi. “Toko-toko banyak yang belum buka, dan ini menjadi faktor lain yang memperparah sepinya pengunjung. Bahkan, meskipun tembok dijebol untuk membuat akses pintu tambahan, hasilnya tetap tidak signifikan,” tambahnya. Menurut Mardiyanto, upaya-upaya untuk membuka akses baru agar bisa meningkatkan daya beli masyarakat masih belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Sebagai solusi, FKPPR mengusulkan agar dibuat akses langsung dari taman depan pasar menuju ke lantai dua, karena pedagang yang berada di lantai dua sering kali mengeluhkan minimnya pengunjung. “Akses menuju lantai dua sangat terbatas, apalagi dengan kondisi trafelator yang sudah tidak berfungsi. Ini mempengaruhi jumlah pengunjung yang naik ke lantai dua,” jelasnya.
Selain masalah akses, FKPPR juga menyoroti berbagai permasalahan infrastruktur yang hingga kini belum terselesaikan, meskipun telah sering dibahas dengan pihak pengelola pasar. Salah satu masalah yang menjadi sorotan adalah pemeliharaan fasilitas pasar, seperti genset yang tidak dapat dioperasikan saat terjadi pemadaman listrik. “Genset ada, tapi tidak bisa digunakan ketika dibutuhkan. Begitu juga dengan pompa air yang sering mengalami gangguan. Semua ini memperparah kondisi pasar yang sudah sepi,” kata Mardiyanto.
Selain itu, FKPPR juga mengeluhkan minimnya komunikasi yang efektif antara pedagang dan pengelola pasar dalam hal pemeliharaan dan perbaikan fasilitas. Mereka berharap, setelah forum ini, ada langkah nyata dari pihak terkait untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi Pasar Randudongkal.
Di akhir pertemuan, Mardiyanto menegaskan bahwa untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada, diperlukan kaji ulang secara menyeluruh terhadap kondisi pasar. “Tanpa kaji ulang yang serius, masalah-masalah ini tidak akan pernah terselesaikan. Kami berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk melakukan langkah-langkah perbaikan yang konkret,” pungkasnya.
Dengan segala keluhan yang disampaikan, para pedagang Pasar Randudongkal berharap bahwa pertemuan ini akan menjadi titik awal perubahan menuju kondisi pasar yang lebih baik dan ramai seperti yang mereka dambakan. ( Joko Longkeyang )















