Emsatunews.co.id, Pemalang – Dahulu menjadi primadona wisata di pesisir utara Jawa Tengah, kini Pantai Kramatsari di Desa Blendung, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, nyaris ‘hilang’ ditelan abrasi. Kerusakan sepanjang bibir pantai mencapai puluhan meter telah melumpuhkan aktivitas wisata dan ekonomi warga.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turun langsung ke lokasi pada Selasa, 28 Mei 2025, didampingi Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro. Kunjungan tersebut untuk meninjau tanggul bambu model “kandang jangkrik” yang jebol, serta merumuskan langkah darurat dan jangka panjang.
“Prinsipnya daerah ini harus cepat ditangani. Tanggul yang jebol sepanjang sekitar 1 kilometer akan segera kita perbaiki,” ujar Ahmad Luthfi.
Gubernur menegaskan, penanganan jangka pendek dilakukan segera, diikuti upaya menengah berupa pendataan dampak kerusakan terhadap warga, tambak, dan sawah. Dalam jangka panjang, Pemprov Jawa Tengah mengadopsi model perlindungan pesisir seperti di Sayung, Demak—dengan pembangunan tanggul laut dan kolam retensi pada 2025–2027.
Pantai Kramatsari mencapai masa kejayaannya pada 2017–2018. Diresmikan sebagai destinasi wisata sejak 1999, pantai ini mampu menyedot ribuan pengunjung setiap akhir pekan. Aktivitas wisata mulai dari mandi di laut, bermain wahana, hingga menikmati kuliner di warung-warung warga menjadi pemandangan sehari-hari.
“Sehari semalam pernah dapat Rp6 juta waktu akhir pekan. Harga es teh cuma seribu rupiah,” kenang Harini (45), warga asli Blendung yang memiliki warung di sekitar pantai.
Namun sejak 2019, abrasi mulai menggerus garis pantai hingga sekitar 50 meter. Sebanyak 33 warung amblas, jalan penghubung rusak, tiang listrik tumbang, dan fasilitas wisata hancur. Kini, kawasan yang dulu hidup oleh wisata berubah jadi wilayah sunyi yang tergenang rob.
Pada 2024, warga berinisiatif membangun tanggul swadaya menggunakan bambu. Tanggul dibuat dalam dua bentuk: batang bambu yang ditancapkan dan model ‘kandang jangkrik’, struktur kotak menyerupai kandang jangkrik, terinspirasi dari proyek serupa di Demak.
Namun, menurut Kepala Pelaksana Harian BPBD Pemalang, Andri Adi, tanggul itu rusak diterjang gelombang besar pada awal 2025.“Tanggul kandang jangkrik sempat memberi harapan, tapi akhirnya rusak juga. Kini muncul muara-muara baru akibat abrasi,” jelasnya.
Babinsa Ulujami, Serka Masrikan, menyebut abrasi telah mengubah wajah Desa Blendung.“Akses jalan terkena rob. Rumah-rumah juga tergenang. Dulu tempat ini pusat wisata, sekarang nyaris tenggelam,” ujarnya prihatin.
Selain perbaikan tanggul darurat, Gubernur Ahmad Luthfi mendorong penanaman mangrove sebagai solusi ekologis jangka panjang.
“Semua pihak harus bergerak—bupati, kapolres, dandim, hingga masyarakat dan pegiat lingkungan untuk menanam mangrove. Ini upaya penting mencegah abrasi,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan masyarakat pesisir merasa terabaikan,“Yang utama, masyarakat tidak boleh terdampak tanpa perhatian. Ini harus segera kita selesaikan,” katanya.
Dengan sinergi dan penanganan cepat, diharapkan Pantai Kramatsari kembali bangkit sebagai destinasi wisata dan sumber penghidupan warga pesisir.( Joko Longkeyang ).















