Scroll ke Atas
Berita UtamaDaerahPemalang

Enyong Mejagong: Menyalakan Nalar Kritis Warga di Meja Diskusi

Joko Longkeyang
18
×

Enyong Mejagong: Menyalakan Nalar Kritis Warga di Meja Diskusi

Sebarkan artikel ini

Emsatunews.co.id, Pemalang – Pendopo Balai Desa Mejagong berubah menjadi ruang dialektika yang hangat pada Sabtu malam (4/4/2026). Melalui forum bertajuk “Kongkow Bareng Sedulur Mejagong & Halalbihalal”, puluhan warga berkumpul untuk membedah masa depan desa dalam suasana yang cair namun tetap substantif.

​Gerakan akar rumput bertajuk “Enyong Mejagong” hadir sebagai inisiator untuk menjemput berbagai aspirasi masyarakat yang selama ini mengendap di tingkat bawah. Forum ini membuktikan bahwa kepedulian warga terhadap tanah kelahirannya masih sangat tinggi.

Advertisement

​Menjemput Aspirasi yang Terpendam

​Inisiator gerakan menegaskan bahwa “Enyong Mejagong” adalah wadah inklusif bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang profesi maupun usia. Fokus utamanya adalah membangun kesadaran kolektif untuk kemajuan Desa Mejagong melalui tindakan nyata, bukan sekadar retorika.”Kami hadir untuk membuka sumbat komunikasi di akar rumput. Forum ini menjadi bukti bahwa warga Mejagong memiliki kepedulian besar, hanya saja selama ini belum ada ruang yang tepat untuk mengakuinya. Kami bergerak murni demi kedaulatan warga, jauh dari kepentingan politik praktis,” tegas pihak inisiator dalam pernyataan prinsipilnya.

Baca Juga :  Di Pemalang, Prof.Dr.Hendrawan Serap Aspirasi, Ini Salah Satunya!

​Pemerintah Desa Beri Lampu Hijau

​Langkah proaktif warga ini mendapat respons positif dari Pemerintah Desa Mejagong. Penjabat (PJ) Kepala Desa Mejagong, Bapak Jumali, yang hadir langsung di lokasi, memberikan apresiasi tinggi terhadap pola komunikasi dua arah tersebut.

​Menurut Jumali, forum santai seperti ini justru menjadi mitra strategis bagi pemerintah desa untuk mendengar suara murni masyarakat. Ia berharap ruang dialog yang jujur dan transparan ini dapat dilakukan secara rutin.”Ini adalah awal yang sangat baik. Komunikasi terbuka antara warga dan pemerintah seperti inilah yang kita butuhkan untuk membangun desa secara bersama-sama,” ujar Bapak Jumali dengan nada optimis.

Baca Juga :  Sebanyak 12 Taruna Akpol TK I Angkatan 56 Batalyon Presisi Akan Ikuti Latja di Polres Pekalongan

​Bahas Isu Sampah hingga Tata Aturan Desa

​Meski dikemas dalam obrolan “ngopi” santai, topik yang diangkat tergolong berat dan krusial. Warga secara kritis menyoroti penanganan sampah rumah tangga, pemeliharaan fasilitas olahraga, hingga membedah regulasi desa terbaru serta proyeksi pemerintahan ke depan.

​Dinamika ini menunjukkan pergeseran peran warga Mejagong, dari sekadar objek pembangunan menjadi subjek yang kritis dan partisipatif. Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa kesadaran kolektif telah lahir: bahwa desa adalah rumah bersama yang harus dijaga kedaulatannya oleh setiap individu yang mendiaminya.

Editor : Joko Longkeyang