PEMALANG, emsatunews.co.id – Aroma wangi dari minyak pusaka dan bunga setaman mendadak menyerbak, menyelimuti udara di sekitar Balai Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Pada Rabu (17/06/2026) siang yang terik itu, suasana mendadak terasa hening, magis, dan penuh kehati-hatian.
Bukan tanpa alasan, di atas hamparan kain bersih, terbaris lebih dari tiga puluh bilah benda pusaka. Mayoritas dari benda-benda tersebut adalah keris-keris sepuh peninggalan leluhur, yang guratan pamor-nya seolah menyimpan ribuan misteri dari masa lampau. Hari itu, pusaka-pusaka milik warga dan perangkat Desa Penggarit tersebut tengah menjalani prosesi sakral: Penjamasan.
Prosesi memandikan atau menyucikan benda bertuah ini tidak dilakukan oleh sembarang orang. Dengan rapalan doa yang khusyuk, ritual penjamasan dipimpin langsung oleh tokoh spiritual, Ustaz Roby Hidayat, yang secara telaten didampingi oleh Kepala Desa Penggarit, Imam Wibowo. Setiap karat dan debu yang menempel pada bilah keris dibersihkan perlahan, mengembalikan aura wibawa dari besi-besi tua sakral tersebut.
Kepala Desa Penggarit, Imam Wibowo, menuturkan bahwa ritual penjamasan ini bukanlah kegiatan klenik semata, melainkan puncak dari rentetan napak tilas spiritual menyambut datangnya bulan yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa, yakni Bulan Suro, yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
Aura mistis nyatanya sudah mulai terasa sejak dua hari sebelumnya. Tepat pada malam pergantian tahun, Senin (15/06/2026) malam, gulita Desa Penggarit dipecahkan oleh kobaran api dari tradisi pawai obor sakral. Ribuan pasang mata warga menjadi saksi bagaimana iring-iringan cahaya obor tersebut berjalan membelah malam, menuju ke satu titik yang sangat dihormati: Area Makam Keramat Pangeran Benowo, sosok leluhur yang diyakini sebagai pendiri Kabupaten Pemalang dan makamnya di Desa Penggarit.
Sebelumnya di Balai Desa Penggarit di sela-sela malam magis di bawah temaram obor itulah, Pemdes Penggarit mengambil langkah bersejarah dengan meluncurkan (launching) logo resmi desa yang baru. Sebuah langkah monumental untuk mengikat energi spiritual masa lalu dengan visi masa depan desa.
Langkah ini, menurut Imam, adalah wujud strategi pemerintah desa dalam merawat akar sejarah agar identitas dan peninggalan Pangeran Benowo tidak luntur ditelan laju modernisasi. “Penjamasan pusaka ini adalah bagian dari nguri-nguri (merawat dan melestarikan) budaya nenek moyang orang Jawa. Benda-benda ini adalah saksi bisu perjalanan leluhur. Jadi, kami sebagai anak cucunya memiliki kewajiban menjaga, jangan sampai generasi muda kehilangan jejak sejarahnya sendiri,” ungkap Imam Wibowo dengan tatapan penuh wibawa.
Hingga prosesi berakhir, nuansa sakral tak memudar dari Balai Desa Penggarit. Keris-keris yang telah dimandikan kini kembali disarungkan ke dalam warangka-nya, kembali ‘tertidur’ membawa doa, harapan, dan pelindung kultural bagi ketentraman warga Desa Penggarit di tahun 1448 Hijriah ini. Tradisi ini membuktikan bahwa di tengah gempuran zaman, hal-hal magis yang berakar pada penghormatan budaya masih memiliki tempat yang agung di tanah Jawa.( Joko Longkeyang).















