PEMALANG, EMSATUNEWS.CO.ID – Terik matahari musim kemarau tidak menyurutkan semangat aparatur sipil negara (ASN) di Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Justru di saat cuaca ekstrem inilah, komitmen mereka terhadap lingkungan semakin teruji. Pada Kamis (2/7/2026), Camat Comal, Muchammad Maksum, S.IP., M.M., mengungkapkan bahwa pihaknya konsisten memelihara konsep RHA (Resik, Hijau, dan Apik) di area Stadion Jatidiri. Aksi nyata ini dilakukan bukan hanya pada hari kerja biasa, melainkan setiap sore tanpa henti sejak awal musim kering tiba.
Dalam wawancara di lokasi, Muchammad Maksum menjelaskan bahwa menjaga keindahan stadion adalah tanggung jawab moral bersama. “Kami tidak ingin Stadion Jatidiri gersang dan kusam saat kemarau. Oleh karena itu, saya dan seluruh staf kecamatan bergotong royong menyiram tanaman setiap sore setelah jam dinas selesai,” ujarnya dengan nada bangga namun rendah hati. Tindakan sederhana ini ternyata memiliki dampak psikologis yang besar bagi masyarakat sekitar.
Melihat pejabat dan pegawai negeri rela berkeringat merawat taman publik memberikan pesan kuat bahwa pemerintah benar-benar peduli pada kenyamanan warganya.
Konsep RHA yang diusung Camat Muchammad bukan sekadar slogan di spanduk. Kata “Resik” dimaknai sebagai kebersihan fisik dan administrasi; “Hijau” berarti keberlanjutan ekologi melalui penanaman pohon dan bunga; sedangkan “Apik” merujuk pada kerapian tata kelola ruang publik. Stadion Jatidiri yang selama ini menjadi ikon olahraga dan rekreasi warga Kecamatan Comal kini bertransformasi menjadi laboratorium hidup penerapan nilai-nilai tersebut. Tanaman-tanaman yang disiram setiap sore bukan hanya berfungsi estetika, tetapi juga membantu menurunkan suhu mikro di sekitar stadion dan meningkatkan kualitas udara.
Camat Comal juga menekankan bahwa keteladanan adalah kunci keberhasilan program lingkungan. Ia tidak memerintah bawahan dari balik meja, melainkan turun langsung memegang selang air dan cangkul. Budaya kerja seperti ini menular kepada masyarakat, sehingga banyak warga yang kemudian tergerak untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. Sinergi antara pemerintah kecamatan dan komunitas lokal inilah yang membuat program RHA bertahan lama dan tidak mati suri seiring pergantian kepemimpinan.
Di tengah isu perubahan iklim global, aksi kecil di tingkat kecamatan seperti ini sangat relevan. Adaptasi terhadap musim kemarau tidak selalu harus dengan proyek infrastruktur mahal; kadang cukup dengan kesadaran kolektif untuk merawat alam di sekitar kita. Stadion Jatidiri yang tetap hijau di tengah panasnya bulan Juli 2026 adalah bukti bahwa niat tulus mampu mengalahkan keterbatasan sumber daya.
Bagi Muchammad Maksum, melayani masyarakat bukan hanya soal mengurus surat-menyurat atau menyelesaikan konflik sosial. Merawat lingkungan hidup juga merupakan bentuk pelayanan publik yang esensial. Ketika warga datang ke stadion untuk berolahraga atau bersantai, mereka berhak mendapatkan suasana yang sejuk, bersih, dan nyaman. Itulah hak dasar yang harus dipenuhi oleh pemerintah daerah. Semoga gerakan RHA di Comal ini dapat menginspirasi kecamatan lain di Kabupaten Pemalang untuk melakukan hal serupa. Karena pada akhirnya, warisan terbaik bagi generasi mendatang bukanlah gedung megah, melainkan bumi yang masih asri dan lestari. ( Joko Longkeyang ).















