Berita UtamaDaerahPemalang

Dua Tahun Menahan Nyeri Lutut, Warga Lereng Lawu Akhirnya Bertemu Dokter Spesialis

Joko Longkeyang
9
×

Dua Tahun Menahan Nyeri Lutut, Warga Lereng Lawu Akhirnya Bertemu Dokter Spesialis

Sebarkan artikel ini

KARANGANYAR, Emsatunews.co.id – Dua tahun lamanya Sarman memendam nyeri dan kaku di lututnya. Rasa sakit itu merampas tidur malamnya dan membuat warga Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, ini tak lagi bisa bekerja seperti dulu.

Selama itu, obat dari apotek menjadi satu-satunya andalan. Baru pada Kamis (29/10/2026), kesempatan bertemu dokter spesialis datang menghampirinya, tanpa perlu menempuh perjalanan jauh dari desanya yang terletak di lereng Gunung Lawu.

Sarman adalah satu dari sekian warga yang memanfaatkan program Speling atau Dokter Spesialis Keliling, layanan yang membawa dokter spesialis langsung ke desa-desa di Jawa Tengah.

Diantar putrinya, Sarman menjalani pemeriksaan dan menerima obat untuk keluhannya. Baginya, ini pengalaman pertama karena selama ini ia jarang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“Saya senang. Semoga bisa mencari obat dan nanti sakitnya sembuh. Terima kasih kepada Pak Gubernur, karena sudah ada pemeriksaan dan obat gratis,” ujarnya.

Ia berharap pemeriksaan ini menjadi awal pemulihan, sehingga ia dapat kembali bekerja. “Baru kali ini ada cek kesehatan gratis datang ke desa, dan ada dokter spesialis,” katanya.

Jarak dan Biaya Jadi Beban

Baca Juga :  Sipropam Gelar Gaktibplin pada Polsek Jajaran Polres Pekalongan

Kendala akses juga dirasakan Warsini Atun Hasanah. Ia membawa putranya, Regar Mahardika, berkonsultasi dengan dokter spesialis anak dalam layanan Speling di Gondosuli.

Saat berusia delapan bulan, Regar mengalami keterlambatan perkembangan motorik. Lehernya belum cukup kuat menopang kepala. Warsini lalu mengupayakan terapi dan berkonsultasi dengan dokter. Kini Regar sudah bisa duduk, tetapi kemampuan berjalannya masih memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Untuk mengakses terapi, Warsini harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan sepeda motor. Biaya konsultasi dan terapi yang pernah ia keluarkan berkisar Rp150.000 hingga Rp200.000, belum termasuk kebutuhan lain.

Karena itu, kehadiran dokter spesialis anak di desanya terasa berarti. Ia dapat menjelaskan riwayat perkembangan putranya sekaligus memperoleh arahan soal pemeriksaan lanjutan.

“Alhamdulillah, terbantu. Intinya ada solusi saya harus ke mana,” kata Warsini.

Ia berharap layanan serupa kembali hadir agar warga lebih mudah berkonsultasi dengan dokter spesialis.

Deteksi Dini Tumbuh Kembang

Dokter Spesialis Anak RSUD Dr Moewardi Solo, Diah Lintang Kawuryan, menilai layanan semacam ini membantu mendeteksi lebih awal kondisi yang perlu perhatian lanjutan, terutama terkait tumbuh kembang anak.

Baca Juga :  Mental Petarung, Cara Diaspora Jawa Tengah Taklukkan Lampung

“Bisa untuk pelacakan di awal. Kalau ada kelainan yang memang membutuhkan perawatan oleh dokter spesialis, bisa segera ditindaklanjuti,” jelasnya.

Menurut Diah, keluhan umum seperti batuk, pilek, dan demam pada dasarnya dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas. Sementara itu, gangguan pertumbuhan dan perkembangan tertentu memerlukan pemeriksaan lebih mendalam. Pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan akan diarahkan ke layanan yang sesuai.

Menjangkau Ribuan Titik

Speling diinisiasi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi untuk mendekatkan layanan dokter spesialis kepada masyarakat, terutama warga yang terkendala jarak menuju fasilitas kesehatan.

Di Desa Gondosuli, empat dokter spesialis diterjunkan, yakni spesialis anak, jiwa, paru, dan penyakit dalam. Warga dapat berkonsultasi, memperoleh pemeriksaan awal, dan mendapat arahan penanganan sesuai kondisi.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mencatat, Speling telah menjangkau sekitar 1.857 titik dengan sasaran 133.132 orang. Pemprov Jawa Tengah menyatakan program ini akan terus dilaksanakan di desa-desa di seluruh wilayah provinsi.

Bagi Sarman dan Warsini, bertemu dokter spesialis di dekat rumah berarti terbebas dari kendala jarak, waktu, dan biaya. Namun, bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, akses ke fasilitas kesehatan rujukan tetap menjadi bagian penting dari proses pengobatan. ( Joko Longkeyang).