Scroll ke Atas
Berita Utama

Beri Sosialisai Kepada Petani, PT Pupuk Indonesia: Jangan Bakar Jerami, tapi Jadikan Pupuk Tanah

emsatunews.co.id
202
×

Beri Sosialisai Kepada Petani, PT Pupuk Indonesia: Jangan Bakar Jerami, tapi Jadikan Pupuk Tanah

Sebarkan artikel ini

EMSATUNEWS.CO.iD, PEMALANG – PT Pupuk Indonesia bekerja sama dengan PT Jasa Raharja menyelenggarakan sosialisasi kepada para petani dari Desa Pedurungan, Jebed Utara dan Jebed Selatan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang tentang bahaya membakar jerami pasca panen. Pasalnya, jerami yang dibakar mengeluarkan asap yang dapat mengganggu konsentrasi pengguna jalan tol sehingga dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Advertisement

Dwi Pudyasmoro selaku pihak Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT Pupuk Indonesia mengatakan para petani biasanya membakar jerami setelah panen. Kegiatan ini dinilai sangat berbahaya mengingat areal pertanian ketiga desa yang luasannya mencapai 23 hektare tersebut terletak di dekat jalan tol. Asap yang dihasilkan selama pembakaran dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan bagi pengguna jalan bebas hambatan tersebut. 

“Artinya ada gangguan di jalan tol terkait dengan hal pembakaran karena ada asap. Lah ini akan sangat mempengaruhi keselamatan bagi para pengendara di jalan tol,” ujar Dwi seusai acara sosialisasi yang diselenggarakan di halaman penggilingan beras (PB) Sumber Tani di Desa Pedurungan, Selasa (15/8/2023).

Selain terkait bahaya membakar jerami, para petani juga diberi penjelasan tentang manfaat jerami yang dianggap sebagai limbah setelah panen raya. Padahal jerami ini bisa dikembalikan lagi ke tanah.

Menurut Dwi, petani sebenarnya bisa memanfaatkan jerami ini untuk menyuburkan lahan pertaniannya. Meski prosesnya memakan waktu yang cukup lama.

“Kami mempunyai produk yang bisa mendekomposisi lebih cepat, yang tadinya dibiarkan butuh (proses) yang lama, tapi dengan dekomposisi dari produk kami, itu bisa mempercepat, sehingga kita bisa lakukan setelah pasca panen dengan cara melakukan penyemprotan (jerami),” ujarnya.

Dwi menambahkan, setelah disemprot, tanah didiamkan selama dua hingga tiga minggu sebelum diolah kembali. Hal ini sejalan dengan visi dan misi PT Pupuk Indonesia untuk bagaimana menerapkan budidaya pertanian yang sustainable atau berkelanjutan.

“Jadi mereka tidak lagi melakukan pembakaran, sehingga dari sisi keselamatan juga akan turun. Dari Jasa Raharja, klaim terkait dengan santunan juga akan turun. Kemudian dari sisi petani diuntungkan dengan sustainable dari tanahnya tadi,” tandas Dwi seraya berujar bahwa apabila kandungan tanah di dalam lahan pertanian itu mencukupi, maka asupan atau penyerapan pupuk akan efisien, yang pada akhirnya dapat menurunkan biaya budidaya pertanian itu sendiri.*

Penulis : Yanto