Scroll ke Atas
Berita UtamaDaerahNasionalPemalang

Wakil Bupati, Dewata Fest Culture 2025 Angkat Budaya Lokal ke Panggung Nasional

Joko Longkeyang
100
×

Wakil Bupati, Dewata Fest Culture 2025 Angkat Budaya Lokal ke Panggung Nasional

Sebarkan artikel ini

Emsatunews.co.id, Pemalang– Semarak budaya menggema dari Desa Wanarata, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang. Selama tiga hari berturut-turut, mulai Jumat hingga Minggu (13–15 Juni 2025), desa tertua di Pemalang ini menggelar perayaan akbar bertajuk Dewata Fest Culture Wanarata 2025 dalam rangka memperingati Hari Jadi Desa Wanarata ke-491.
Festival yang didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk menunjukkan kekayaan budaya, spiritualitas, dan potensi wisata yang dimiliki desa. Melalui beragam kegiatan bernuansa adat dan kesenian, Wanarata memantapkan diri sebagai desa budaya dengan warisan lokal yang kuat dan hidup.


Rangkaian kegiatan meliputi Kirab Agung Mahesa Pethak (kerbau bule), Kirab Agung Tirta Wiwaha, Festival 1000 Lampion, pertunjukan wayang kulit, serta pagelaran seni budaya tradisional. Masyarakat dari berbagai usia turut ambil bagian, menjadikan acara ini sebagai ruang ekspresi kolektif dan perayaan jati diri desa.
Puncak acara digelar pada Sabtu, 14 Juni 2025, dengan prosesi kirab yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Pemalang, Nurkholes. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan leluhur sebagai sumber inspirasi dan identitas lokal.
“Hari ini, kita saksikan kekayaan budaya yang luar biasa dari Desa Wanarata. Ritual air dari tujuh mata air dan kirab kerbau bule bukan sekadar simbol, tapi doa dan harapan akan kemakmuran desa. Tradisi ini harus terus hidup, karena inilah yang memberi warna dan kekuatan bagi Pemalang,” ujar Nurkholes.

Advertisement
Baca Juga :  Pertumbuhan Ekonomi Pemalang Melonjak, Kesejahteraan Masyarakat Meningkat! 


Salah satu prosesi sakral adalah pengambilan air suci dari tujuh mata air di wilayah desa. Diawali doa adat di balai desa, warga kemudian melakukan perjalanan spiritual menuju masing-masing sumber mata air. Air yang dikumpulkan diarak dengan iringan musik tradisional, tarian sakral, dan busana adat menuju panggung utama sebagai lambang kesuburan, harmoni, dan keseimbangan hidup.
Seto, tokoh adat yang memimpin ritual, mengatakan bahwa setiap tetes air mengandung makna spiritual dan sejarah yang mendalam.
“Ini bukan hanya air. Ini adalah doa bagi masa depan desa kami — agar tetap damai, subur, dan makmur,” ucap Seto penuh haru.


Kepala Desa Wanarata, Elok Rakhmawati, menyampaikan bahwa pelaksanaan festival ini merupakan bagian dari strategi desa dalam membangun sektor pariwisata berbasis kearifan lokal. Ia menegaskan bahwa “Berbudaya” adalah branding desa — Beriman, Berbudi luhur, dan Berdaya guna.
“Dewata Fest bukan sekadar seremoni. Ini adalah pesan bahwa Wanarata memiliki kekuatan budaya yang layak diperkenalkan ke luar. Harapan kami, festival ini menjadi agenda tahunan dan masuk dalam kalender pariwisata kabupaten,” ujar Elok.

Baca Juga :  Wabup Pemalang: Relawan Dapur MBG Wajib Dilindungi BPJS Ketenagakerjaan


Dian Ika Siswanti, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Pemalang, yang hadir mewakili Bupati Pemalang, mengapresiasi penuh acara tersebut. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya hiburan, tetapi media edukasi dan pelestarian budaya yang sangat efektif.
“Festival ini memberi ruang kepada generasi muda untuk mencintai akar budaya mereka. Lebih dari itu, ini adalah modal membangun desa yang berkarakter kuat,” ucap Dian.
Tak hanya menonjolkan budaya, festival ini juga melibatkan pelaku UMKM lokal, seniman tradisional, dan kelompok pemuda dalam berbagai aktivitas. Sinergi lintas generasi ini membentuk kekuatan sosial yang tak hanya menjaga budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi kreatif lokal.
Malam penutupan festival menjadi semakin magis dengan pelepasan 1000 lampion ke langit Wanarata. Lampion-lampion itu terbang perlahan, menerangi malam dan membawa harapan baru — bahwa Desa Wanarata akan terus tumbuh sebagai desa budaya yang lestari, mandiri, dan berdaya saing tinggi.( Joko Longkeyang ).