EMSATUNEWS.CO.ID, PEKALONGAN– Peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke -103 telah digelar di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, Desa Kemplong, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, pada Selasa (6/1/2025). Kegiatan yang diselenggarakan sebagai bagian dari perayaan Harlah NU yang jatuh pada bulan Januari ini berlangsung semarak dan penuh khidmat, meskipun harus dijalankan di tengah rintik hujan.
Antusiasme warga Nahdliyin tercermin dari kehadiran jajaran Pengurus Ranting (PR) NU Desa Kemplong beserta seluruh Badan Otonom (Banom), antara lain Muslimat NU, Fatayat NU, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Ikatan Perempuan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU). Kehadiran seluruh elemen NU tersebut tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga semakin menguatkan rasa kebersamaan antarwarga Nahdliyin.
Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah PR NU Desa Kemplong, Ustadz Winarto, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pengurus dan Banom yang tetap hadir meskipun cuaca kurang bersahabat. “Walaupun suasana dingin dan gerimis rintik-rintik kehadiran panjenengan semua semoga menjadi keberkahan bagi kita bersama,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa sejatinya masyarakat adalah pihak yang membutuhkan NU sebagai wadah perjuangan dalam menapaki jalan dunia- akhirat, sejalan dengan dawuh pendiri NU KH Hasyim Asy’ari: “Sopo wonge sing gelem ngurip-ngurip NU, milo tak anggep dadi santriku, insyaallah mati dalam kondisi husnul khotimah.”pungkasnya.
Turut hadir dan memberikan sambutan adalah Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Wiradesa, Ustadz Kasturah, S.Pd.Ia mengapresiasi terselenggaranya peringatan Harlah NU secara serentak di seluruh ranting se-Kecamatan Wiradesa, termasuk di Desa Kemplong, malam ini. Menurutnya, peringatan Harlah NU ke-103 menandai usia NU yang telah memasuki satu abad perjalanan, yang akan diperingati tepat pada tanggal 31 Januari mendatang.
Ustadz Kasturah menegaskan bahwa warga Nahdliyin memiliki ciri khas yang tidak pernah meninggalkan amaliyah NU, seperti pembacaan tahlil dan barzanji. “Jika dua amaliyah ini ditinggalkan, maka secara otomatis akan hilang nilai ke-NU-annya,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam menghadapi tantangan era media sosial. Penyaringan informasi menjadi hal mutlak agar tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum tentu benar, serta tetap menjaga nilai-nilai akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
Terkait dinamika yang sempat terjadi di tubuh Pengurus Besar NU (PBNU), ia menilai bahwa perbedaan pandangan merupakan hal wajar dan patut disyukuri karena telah terselesaikan tanpa menimbulkan perpecahan. “Sebagai kader NU, kita harus pandai memilah informasi mana yang baik dan mana yang perlu disebarluaskan. Kehati-hatian dalam menerima kabar dari media sosial sangat penting karena dapat berdampak fatal,” pesannya.
Secara keseluruhan, rangkaian peringatan Harlah NU ke-103 di Desa Kemplong berjalan lancar, tertib, dan penuh kekhidmatan, dengan semangat kebersamaan yang kuat terasa di antara seluruh peserta.
Rozikin Sanoe.















