Emsatunews.co.id, Semarang – Angin segar berembus bagi warga di kawasan Magelang dan Temanggung. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah mengakselerasi rencana pengoperasian Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng Koridor Gelangmanggung. Langkah strategis Gubernur Ahmad Luthfi ini diproyeksikan menjadi kunci utama dalam memangkas biaya transportasi sekaligus menggerakkan roda ekonomi berbasis aglomerasi.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Arief Djatmiko, mengungkapkan bahwa koridor yang menghubungkan Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Temanggung ini merupakan bagian dari sistem transportasi terintegrasi. Komitmen tersebut telah dikukuhkan melalui kesepakatan bersama antara Gubernur dengan para kepala daerah di wilayah terkait.”Pengembangan aglomerasi ini diawali dengan komitmen kolaborasi. Kita membangun sistem transportasi yang menyambungkan urat nadi perekonomian, mulai dari pusat kota hingga ke pelosok desa,” ujar Arief, Jumat (23/1).
Rencana besar ini dijadwalkan mulai mengaspal pada 2027 mendatang. Nantinya, rute yang dilayani meliputi Terminal Maron (Temanggung) – Terminal Tidar (Kota Magelang) – Terminal Borobudur (Kabupaten Magelang) dengan dukungan 14 armada bus yang nyaman.
Dukungan pun mengalir dari daerah. Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menyebut kolaborasi ini sebagai terobosan agar transportasi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan antarwilayah. Sementara itu, Pemkab Temanggung menyatakan kesiapannya menyediakan angkutan pengumpan (feeder) guna memastikan aksesibilitas masyarakat hingga ke halte-halte utama.
Salah satu daya tarik utama Trans Jateng adalah tarifnya yang sangat terjangkau. Berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah tertanggal 30 April 2025, tarif khusus bagi pelajar, mahasiswa, buruh, veteran, dan lansia ditekan menjadi hanya Rp1.000. Kebijakan ini terbukti sangat berdampak bagi daya beli masyarakat.”Berdasarkan survei di koridor yang sudah berjalan, warga bisa menghemat biaya transportasi antara Rp100.000 hingga Rp300.000 setiap bulannya. Ini angka yang signifikan untuk membantu pengeluaran rumah tangga,” jelas Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Jateng, Bekora Seputranto.
Menanggapi kekhawatiran angkutan eksisting, Bekora menegaskan bahwa Trans Jateng tidak hadir untuk mematikan usaha lokal. Justru, operator angkutan yang sudah ada akan dilibatkan dalam konsorsium melalui proses scraping (peremajaan armada) maupun lelang resmi. Awak angkutan yang terdampak juga diprioritaskan untuk bergabung sebagai pramudi atau pramujasa.
Sepanjang tahun 2025, layanan Trans Jateng telah membuktikan eksistensinya dengan melayani lebih dari 10,2 juta penumpang di tujuh koridor. Kehadiran koridor Gelangmanggung diharapkan mampu mengulang kesuksesan tersebut, sekaligus menghapus kesenjangan akses antarwilayah di Jawa Tengah. ( Joko Longkeyang).















