Emsatunews.co.id, Semarang – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengeluarkan peringatan keras bagi para pelaku usaha dan distributor untuk tidak bermain-main dengan harga komoditas pokok menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Penegasan ini bertujuan untuk memastikan stabilitas ekonomi masyarakat di tengah tren kenaikan permintaan tahunan.
Dalam forum High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Semarang, Rabu (11/2/2026), Luthfi menekankan bahwa kelancaran rantai pasokan adalah harga mati. Ia menginstruksikan seluruh jajaran kepala daerah untuk menutup rapat celah praktik spekulasi yang kerap memanfaatkan momentum hari raya.”Menjelang Lebaran, saya tidak mau ada kenaikan harga yang tidak terkendali. Tidak boleh ada sumbatan distribusi, tidak boleh ada permainan harga. BUMD harus hadir di tengah masyarakat,” tegas Ahmad Luthfi.
Sebagai langkah konkret, Gubernur menginstruksikan pemasangan dashboard harga di seluruh pasar induk di Jawa Tengah. Papan informasi digital ini wajib diperbarui secara berkala agar masyarakat mendapatkan akses data harga yang transparan dan akurat. Langkah ini dinilai efektif untuk meredam ruang gerak spekulan yang mencoba memanipulasi harga di tingkat pedagang.
Beberapa komoditas strategis yang menjadi fokus pengawasan ketat antara lain beras, minyak goreng, bawang merah, dan cabai. Luthfi mengingatkan bahwa daerah yang menjadi sentra produksi justru tidak boleh mengalami kelangkaan akibat distribusi yang menyimpang ke luar wilayah tanpa kontrol.
Berdasarkan data terbaru, inflasi di Jawa Tengah pada Januari 2026 berada di angka 2,83 persen (yoy), sebuah angka yang dinilai masih cukup terkendali. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, menyebutkan bahwa meskipun terjadi deflasi bulanan sebesar 0,35 persen (mtm) pada Januari, risiko lonjakan harga tetap mengintai saat memasuki fase Ramadan.
Selain fokus jangka pendek, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memperkuat visi jangka panjang melalui:
Percepatan Penetapan LP2B: Melindungi 1,3 juta hektare lahan pertanian produktif.
Modernisasi Pertanian: Mendorong penggunaan teknologi untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Iklim Investasi: Menjaga realisasi investasi yang pada 2025 telah menyerap lebih dari 418 ribu tenaga kerja dengan komitmen “Nol Pungli” dan “Nol Premanisme”.
Dengan integrasi pengawasan distribusi dan transparansi informasi di pasar, Pemprov Jateng optimistis stabilitas harga pangan akan tetap terjaga hingga puncak perayaan Idulfitri nanti.**( Joko Longkeyang).















