Emsatunews.co.id, Semarang– Genap satu tahun kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dan Wakil Gubernur, Taj Yasin Maimoen, menuai sorotan positif dari kalangan akademisi. Kinerja pasangan ini dinilai merepresentasikan filosofi Jawa “Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih”, yang berarti giat dalam bekerja namun minim dalam mengejar kepentingan pribadi maupun pencitraan.
Pandangan tersebut disampaikan oleh pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip), Nur Hidayat Sardini, dalam forum diskusi bertajuk “Ngabuburit Jurnalis” yang diinisiasi oleh Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jawa Tengah (FWPJT) di Kantor Gubernur, Senin (23/2/2026).
Menurut Nur Hidayat, gaya kepemimpinan Luthfi-Yasin selama setahun terakhir menunjukkan dedikasi pengabdian yang kuat. Namun, ia memberikan catatan penting mengenai perlunya penguatan pada aspek komunikasi publik agar masyarakat tetap mendapatkan informasi yang transparan.“Filosofi tersebut sangat luhur dan relevan. Namun, sepi ing pamrih tidak boleh diartikan sebagai ketiadaan publikasi. Dalam sistem demokrasi, rakyat sebagai pemegang kedaulatan berhak mengetahui progres pembangunan yang didanai dari pajak mereka,” ujar Nur Hidayat.
Ia menekankan bahwa publikasi kinerja bukanlah sekadar ajang pamer, melainkan bentuk pertanggungjawaban publik (akuntabilitas) untuk memperkuat legitimasi pemimpin di mata masyarakat.
Dalam evaluasinya, Nur Hidayat menyebutkan bahwa capaian Pemprov Jateng dalam setahun ini masih didominasi oleh data angka atau kuantitatif. Tantangan ke depan adalah bagaimana menerjemahkan prestasi angka tersebut ke dalam pendekatan kualitatif yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Poin Utama Evaluasi Satu Tahun :
1. Fondasi Kuat: Satu tahun pertama telah menjadi modal dasar yang solid untuk masa jabatan empat tahun ke depan.
2. Partisipasi Masyarakat: Amplifikasi kinerja yang baik akan mendorong kepercayaan publik dan meningkatkan partisipasi warga dalam pembangunan.
3. Hak Warga: Pemimpin wajib memenuhi right to know (hak untuk tahu) bagi setiap warga negara.
“Prestasi itu tidak cukup hanya di atas kertas. Harus ada proses kualifikasi melalui persepsi publik agar masyarakat tahu, menilai, dan akhirnya ikut bergerak bersama pemerintah,” tambahnya.
Meski masa jabatan satu tahun tergolong singkat, Nur Hidayat optimistis pasangan Luthfi-Yasin mampu membawa perubahan lebih besar jika ruang komunikasi publik dibuka lebih lebar.
Ia menyimpulkan bahwa semangat bekerja dalam senyap memang baik untuk menjaga fokus, namun harmoni antara kerja nyata dan keterbukaan informasi adalah kunci sukses kepemimpinan di era modern.”Rakyat berhak mengetahui apa yang sedang dan telah dikerjakan oleh pemimpin yang mereka pilih,” pungkasnya.**( Joko Longkeyang).













