Scroll ke Atas
Berita UtamaDaerahNasionalPemalang

Ribuan Warga Klaten Kompak Mundur dari Bansos PKH, Alasannya Bikin Haru!

Joko Longkeyang
5
×

Ribuan Warga Klaten Kompak Mundur dari Bansos PKH, Alasannya Bikin Haru!

Sebarkan artikel ini

KLATEN, Emsatunews.co.id – Sebuah pemandangan tidak biasa sekaligus menginspirasi terjadi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ribuan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang selama ini bergantung pada Program Keluarga Harapan (PKH) secara sukarela memilih mundur dan menyatakan diri lulus dari jerat bantuan sosial (bansos) pemerintah. Fenomena langka ini menjadi sinyal kuat bangkitnya kemandirian ekonomi di tingkat akar rumput.

​Tercatat sebanyak 2.596 keluarga resmi melepas status mereka sebagai penerima bantuan melalui prosesi wisuda graduasi yang digelar meriah di Gedung Graha Bung Karno, Kabupaten Klaten, pada Selasa (30/6/2026). Momentum ini menjadi bukti nyata bahwa program perlindungan sosial tidak sekadar memberikan jaring pengaman instan, melainkan mampu mengatrol derajat ekonomi masyarakat hingga benar-benar berdaya.

Advertisement

​Berdasarkan data yang dihimpun, dari total 54.555 KPM PKH Tahap I Tahun 2026 di Kabupaten Klaten, sebanyak 992 keluarga memutuskan mengambil langkah berani untuk graduasi mandiri. Keputusan tersebut murni lahir dari kesadaran personal karena mereka merasa kondisi ekonominya sudah mapan dan tidak layak lagi menyandang predikat miskin. Sementara itu, 1.604 keluarga lainnya berhasil menyusul kelulusan tersebut setelah mendapatkan pembinaan intensif melalui Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE).

​Kisah haru sekaligus membanggakan datang dari Sri Giatmi, warga Desa Bero, Kecamatan Trucuk. Perempuan yang menjadi bagian dari kepesertaan PKH sejak tahun 2013 ini mengaku mantap untuk keluar dari program bantuan. Pada awal menerima stimulus, Sri memanfaatkan dana tersebut untuk membiayai kebutuhan pendidikan serta pemenuhan gizi anak-anaknya.

Baca Juga :  Deputi Bidang Pengembangan Wantanas RI Kunjungi Kabupaten Kendal

​Namun, Sri tidak ingin terus berpangku tangan. Berbekal manajemen keuangan yang apik, ia menyisihkan sebagian dana bantuan sebagai modal usaha. Kini, kerja kerasnya berbuah manis. Usaha jamu keliling yang dirintisnya telah berkembang pesat dan mampu menopang penuh roda perekonomian keluarga secara mandiri.”Alhamdulillah, sekarang kondisi kami sudah jauh lebih cukup. Saya berharap langkah ini bisa memotivasi teman-teman lain yang sudah mampu untuk berani mundur. Biarkan bantuan ini dialihkan kepada keluarga lain yang kondisinya jauh lebih membutuhkan,” tutur Sri dengan mata berkaca-kaca menahan haru.

​Cerita serupa diukir oleh Tri Suwiyem, warga Klaten Tengah. Usaha kuliner yang dijalaninya mendapat suntikan energi baru berkat bantuan modal usaha dari Kementerian Sosial melalui Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi.”Melalui program ini, saya mendapatkan bantuan peralatan lengkap untuk berjualan bakso. Lewat dukungan nyata ini, usaha kami kian berkembang dan ekonomi keluarga merangkak naik secara pasti,” ungkap Tri semringah.

​Keberhasilan ribuan warga Klaten ini mendapat apresiasi tinggi dari Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Ia menegaskan bahwa momentum graduasi massal ini merupakan indikator sahih bahwa masyarakat Jateng memiliki mentalitas pejuang yang enggan terus-menerus bergantung pada uluran tangan pemerintah.”Graduasi ini memperlihatkan bahwa mereka sudah mampu berdiri di atas kaki sendiri. Ini adalah babak baru yang sangat baik bagi mereka untuk menjemput kehidupan yang lebih sejahtera ke depan,” puji Luthfi dalam sambutannya.

Baca Juga :  Angin Segar untuk Jateng! Industri Kendaraan Listrik Rp15 Triliun di Kendal Siap Tampung 10 Ribu Pekerja

​Lebih lanjut, Luthfi memaparkan bahwa problem kemiskinan tidak bisa diurai jika hanya mengandalkan satu instansi. Diperlukan strategi ‘pengeroyokan’ melalui sinergi multisektor yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian terkait, dunia usaha, hingga pemangku kepentingan lainnya. Langkah taktis ini terbukti sukses memangkas angka kemiskinan di Jawa Tengah, dari yang semula berada di angka 9,58 persen, menyusut hingga menjadi 9,39 persen pada tahun 2025 lalu.

​Apresiasi senada juga dilontarkan oleh Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono. Ia memuji komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah beserta jajaran kabupaten/kota yang konsisten melakukan validasi dan pemutakhiran data kemiskinan secara transparan. Keakuratan data dinilai sebagai fondasi krusial agar seluruh program intervensi sosial tepat sasaran. “Hari ini, Kabupaten Klaten telah memberikan contoh nyata kepada Indonesia. Dengan kolaborasi yang solid, kita bisa melihat keluarga penerima manfaat berhasil naik kelas menjadi keluarga yang berdaya, tangguh, dan mandiri secara ekonomi,” pungkas Agus Jabo.*( Joko Longkeyang).