PEMALANG, Emsatunews.co.id — Pemerintah Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah bergerak cepat dalam memetakan potensi serta tantangan wilayahnya demi mendongkrak perekonomian lokal. Langkah strategis ini diambil dengan melibatkan puluhan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Tim II Tahun 2026.

Upaya tersebut dimatangkan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pemetaan Awal Wilayah KKN Undip yang digelar di Pendopo Kecamatan Comal pada Sabtu (11/7/2026). Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Camat Comal, Muchammad Maksum, S.IP., M.M., didampingi Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Kasi PMD), Siswanto, S.H., serta dihadiri oleh koordinator mahasiswa dari sepuluh desa/kelurahan lokasi KKN.
Dalam wawancara khusus usai rakor, Camat Comal Muchammad Maksum mengapresiasi hasil pengamatan awal yang dipaparkan oleh para mahasiswa. Menurutnya, sinergi antara pemikiran akademis dan pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk mengurai hambatan klasik pedesaan, mulai dari digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), manajemen limbah, hingga inovasi produk lokal.
”Kehadiran Tim II KKN Undip tahun 2026 ini harus menjadi motor penggerak yang membawa dampak nyata. Kami ingin seluruh program kerja mahasiswa langsung menyentuh akar rumput dan sejalan dengan visi kita, yaitu Comal HEBAT: Harmonis, Edukatif/Ekonomis, Bersih, Aman, dan Tangguh,” ujar Muchammad Maksum di Pendopo Kecamatan Comal, Sabtu (11/7/2026).
Pemetaan Komoditas Unggulan dan Solusi Digital
Berdasarkan laporan hasil observasi awal mahasiswa KKN Undip, tiap desa di Kecamatan Comal memiliki karakteristik ekonomi dan tantangan yang unik:
Pusat Niaga dan Industri Rumahan: Kelurahan Purwoharjo yang berada di jalur utama dipetakan sebagai pusat perdagangan strategis. Sementara itu, Desa Kandang (keripik tempe), Desa Gedeg (konveksi dan bebek), Desa Tumbal (pengasapan ikan), serta Desa Kauman (sentra tahu dan las) menjadi pilar industri rumahan yang membutuhkan sentuhan inovasi kemasan serta branding.
Sektor Pertanian dan Perikanan: Desa Kebojongan, Desa Gandu, Desa Sikayu, dan Desa Gintung tercatat unggul di sektor agraria dan perikanan. Namun, para petani lokal dinilai masih terjebak pada sistem konvensional dan keterbatasan akses modal.
Ikon Wisata Budaya: Desa Sarwodadi tampil beda dengan menonjolkan Kesenian Tradisional Brendung sebagai ikon desa wisata, berpadu dengan industri telur asin Dukuh Bengkelung.
Merespons berbagai hambatan seperti minimnya literasi digital dan keterbatasan pasar tersebut, para mahasiswa KKN Undip menyusun sejumlah program kerja taktis. Solusi yang ditawarkan berfokus pada pendampingan pemasaran digital (digital marketing), pembuatan katalog produk, restrukturisasi manajemen usaha, hingga diversifikasi produk turunan agar nilai jual komoditas warga meningkat tajam.
Sinergi Atasi Masalah Lingkungan
Selain fokus pada pemulihan dan penguatan ekonomi kreatif, rakor tersebut juga menggarisbawahi urgensi penataan lingkungan. Masalah krusial seperti pengelolaan sampah mandiri di Desa Kandang dan Desa Gandu, serta penanganan bantaran Sungai Comal menjadi prioritas yang akan diurai bersama.
Pemerintah Kecamatan Comal berharap, program edukasi pemilahan sampah berbasis masyarakat yang diusung mahasiswa KKN dapat menjadi solusi jangka panjang. Langkah ini dinilai selaras dengan indikator “Bersih” dalam slogan Comal HEBAT, yang menuntut adanya transparansi tata kelola sekaligus kelestarian lingkungan yang terjaga.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, pemetaan awal KKN Undip Tim II Tahun 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen laporan di atas kertas, melainkan menjadi cetak biru (blueprint) kebangkitan ekonomi sepuluh desa di Kecamatan Comal menuju kemandirian yang tangguh menghadapi tantangan zaman.( Joko Longkeyang).















