Berita UtamaDaerahNasionalPemalang

Menembus Hutan Pinus Desa Bodas: Jejak Sensus Ekonomi 2026 di Pelosok Pemalang

Joko Longkeyang
3
×

Menembus Hutan Pinus Desa Bodas: Jejak Sensus Ekonomi 2026 di Pelosok Pemalang

Sebarkan artikel ini

PEMALANG, Emsatunews.co.id — Kabut tipis masih menggantung rendah di atas rindangnya kanopi hutan pinus Desa Bodas, Kecamatan Watukumpul ketika gesekan derap langkah sepatu membentur jalanan tanah yang basah oleh embun pagi. Di sudut selatan Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah ini, riuk suara bising perkotaan tergantikan oleh sunyinya pegunungan. Namun, di balik kesunyian geografis tersebut, sebuah ikhtiar besar bagi masa depan perekonomian bangsa sedang berdenyut.

Advertisement

Di sinilah para pejuang data lapangan bertaruh tenaga. Tanpa riak publikasi megah, mereka merayapi jalur-jalur terjal berbukit demi satu tujuan: memastikan tidak ada satu pun napas usaha warga di pelosok negeri yang terlewat dari catatan negara.

Menyongsong pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dengan mengusung tema besar “Menyongsong Sensus Ekonomi 2026 untuk Indonesia Maju”, potret perjuangan di tingkat tapak menjadi cermin betapa rumit sekaligus krusialnya menganyam peta perekonomian Indonesia yang valid dan komprehensif.

Perjuangan Tanpa Jalan Kabupaten: Menembus Jalur Setapak Pegunungan

Secara administratif, Desa Bodas merupakan bagian dari 15 desa yang membentuk wilayah Kecamatan Watukumpul. Berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat pemerintahan kecamatan dan terpaut 60 kilometer dari pusat Kabupaten Pemalang, desa ini berada di bentang alam berbukit dengan udara dingin yang menusuk tulang.

Secara geografis, batas-batas wilayah Desa Bodas memagari kawasan pedesaan yang dinamis: Sebelah Utara : Berbatasan langsung dengan Desa Longkeyang, Kecamatan Bodeh. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Desa Pagelaran, Kecamatan Watukumpul. Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Desa Majalangu, Kecamatan Watukumpul. Sebelah Barat : Berbatasan langsung dengan Desa Gapura.

Satu fakta unik sekaligus menantang dari Desa Bodas adalah ketiadaan ruas jalan berstatus milik kabupaten. Seluruh akses transportasi di wilayah ini murni mengandalkan jalan desa yang membentang, menghubungkan dusun demi dusun serta dukuh demi dukuh.

Medan yang curam membuat sebagian besar titik pemukiman hanya bisa dijangkau menggunakan sepeda motor berdaya jelajah tinggi. Bahkan, tak jarang kendaraan harus ditinggalkan di pinggir kawasan hutan, memaksa pencatat data melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menembus rimbunnya hutan pinus serta tanjakan perbukitan yang licin.

Menyisir 4 Dusun, 9 Pedukuhan, dan 3.743 Jiwa

Tantangan topografi tersebut harus ditaklukkan oleh petugas sensus untuk menjangkau struktur kependudukan yang tersebar di wilayah seluas ratusan hektare. Desa Bodas terbagi dalam 4 dusun utama, yaitu: 1. Dusun Belik, 2. Dusun Penusupan, 3. Dusun Bodas, 4. Dusun Kalijulang dan wilayah ini kemudian terbagi lagi menjadi 9 ( sembilan) pedukuhan yaitu Dukuh Belik, Penusupan, Ratamandor, Bodas, Karangjarak, Surawangsa, Karangbanjeng, Sigeblog, dan Kalijulang, yang terayomi dalam 18 RT dan 4 RW.

Baca Juga :  Berbagi Dibulan Suci, Persit Kodim Sragen Dan Persit Yonif 408/SBH Kompak bagikan Takjil

Berdasarkan data kependudukan desa, Bodas dihuni oleh 1.241 kepala keluarga (KK) dengan total populasi mencapai : 3.743 jiwa. Mayoritas bentang lahannya dimanfaatkan untuk aktivitas agraris dan kehutanan, yang mencakup: Kawasan Hutan: 424 hektare, Ladang atau Tegalan: 260 hektare, Lahan Sawah: 234 hektare

Tak hanya potensi komoditas pertanian dan hasil hutan, Desa Bodas juga menyimpan potensi ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis alam yang belum sepenuhnya tergarap maksimal, salah satunya keberadaan objek wisata alam : Telaga Jendul yang asri di Dusun Belik. “Masa Depan Dibangun dari Data Hari Ini”kata Siti Kurniati, salah seorang petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 Desa Bodas, mengungkapkan bahwa tugas yang diembannya bukan sekadar menghitung angka atau mencetak lembaran formulir.

Bagi Siti, setiap langkah kaki menaiki perbukitan adalah bentuk dedikasi untuk menyajikan realitas objektif masyarakat pelosok kepada para pembuat kebijakan di tingkat pusat. “Sensus Ekonomi 2026 membawa pesan kuat: Sebab masa depan dibangun dari data hari ini. Setiap keputusan besar yang diambil oleh negara membutuhkan landasan yang solid. Landasan itu tidak bisa dibangun di atas asumsi, melainkan harus berdiri di atas data yang sahih,” tegas Siti saat diwawancarai di sela-sela aktivitas pendataannya.( Sabtu, 25 Juli 2026 ).

Siti Kurniati menekankan bahwa keunikan karakteristik ekonomi lokal seperti di Desa Bodas, mulai dari pedagang kecil, pengrajin kayu, petani pengolah hasil tegalan, hingga pengelola wisata lokal harus terekam secara utuh. “Setiap daerah memiliki keunikan potensi dan aktivitas ekonomi yang berbeda-beda. Aktivitas warga di pegunungan di Desa Bodas, Kecamatan Watukumpul tentu tidak sama dengan warga di kawasan pesisir Kabupaten Pemalang. Oleh sebab itu, seluruh daerah tanpa terkecuali wajib terdata agar gambaran ekonomi Indonesia benar-benar presisi,” urainya penuh semangat.

Baca Juga :  Pabrik Gula SGN, Sudah Siap Memulai Giling 2024

Dari Data Lapangan, Lahir Kebijakan Tepat Sasaran

Dalam analisis penulisan sensus ekonomi, pentingnya pendataan hingga ke tingkat paling dasar sering kali tidak disadari secara langsung oleh masyarakat. Padahal, dampak dari akurasi data sensus beruntun hingga ke tingkat kebijakan makro nasional.

Siti Kurniati memberikan ilustrasi konkret mengenai dinamika ini. Bayangkan sebuah wilayah kabupaten yang memiliki potensi besar pada sektor UMKM kuliner atau olahan hasil tani, namun keberadaannya tidak terdata secara rinci dalam basis data nasional. Tanpa ketersediaan data yang akurat, pemerintah akan menghadapi kesulitan menetapkan arah kebijakan:

1. Prioritas Pelatihan: Menentukan wilayah mana yang paling membutuhkan intervensi pelatihan manajemen usaha dan digitalisasi.

2. Akses Permodalan: Mengidentifikasi sektor-sektor produktif yang membutuhkan kemudahan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR).

3. Infrastruktur Pendukung: Menilai kawasan mana yang mendesak untuk dibangunkan sarana jalan pendistribusian hasil tani dan jaringan telekomunikasi. “Masalah ekonomi tidak bisa diselesaikan hanya dengan kira-kira. Melalui Sensus Ekonomi, pemerintah mendapatkan gambaran yang utuh dan faktual mengenai kondisi riil di lapangan. Dari sanalah lahir kebijakan yang relevan dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” tutur Siti.

Kunci Utama: Partisipasi dan Kejujuran Responden

Di akhir keterangannya, Siti Kurniati mengingatkan bahwa canggihnya sistem pengolahan data statistik tetap bermula dari satu fondasi paling mendasar yaitu kejujuran dan keterbukaan jawaban dari setiap responden di lapangan.

Satu jawaban yang jujur dari seorang pelaku usaha di pelosok Desa Bodas akan berkontribusi pada formulasi alokasi anggaran dan penyusunan program pembangunan nasional yang berdampak bagi jutaan rakyat Indonesia. “Akurasi data Sensus Ekonomi ada di tangan kita semua. Partisipasi aktif masyarakat adalah kunci utama. Mari kita sukseskan Sensus Ekonomi 2026. Sambut kedatangan petugas kami dengan hangat, berikan jawaban yang jujur dan apa adanya, dan masyarakat tidak perlu khawatir karena kerahasiaan data individu dijamin sepenuhnya oleh undang-undang,” tutup Siti Kurniati dengan nada mantap.

Langkah kaki Siti Kurniati dan ribuan petugas sensus lainnya di seluruh pelosok Tanah Air mungkin tidak selalu terlihat di layar kaca. Namun, dari tapak-tapak kecil di antara rindangnya hutan pinus Desa Bodas inilah, fondasi besar perekonomian “Indonesia Maju” sedang ditenun dengan penuh ketelitian.( Joko Longkeyang/ Ahmad Joko Suryo Supeno)