PEMALANG, Emsatunews.co.id – Ada yang berbeda pada gelaran rutin pentas seni karawitan Malam Selasa Kliwon di Pendopo Kabupaten Pemalang, Senin malam (6/9/2026). Di balik riuhnya tabuhan gamelan yang sarat magis, terselip sebuah pesan mendalam tentang ketangguhan mental sebuah peradaban yang berhasil memukau seluruh tokoh penting daerah.

Malam itu, giliran Kecamatan Watukumpul yang memegang kendali panggung melalui Sanggar Sekar Muhawa. Di bawah binaan SMK Muhammadiyah Watukumpul, sekelompok anak muda ini menyajikan garapan seni gending Jawa yang mampu menguras emosi penonton. Langkah berani menampilkan talenta muda di atas panggung sakral ini langsung memicu decak kagum.
Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, hadir langsung menyaksikan pagelaran tersebut. Kehadirannya didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Supaat, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Fera Djokosusanto, serta Ketua TP PKK Kabupaten Pemalang Noor Faizah Maenofie bersama jajaran tamu undangan penting lainnya.
Tiga Pilar Tameng Globalisasi
Pentas seni ini merupakan agenda berkala yang digilir setiap bulan untuk memberikan ruang ekspresi bagi seniman dari 14 kecamatan di Kabupaten Pemalang. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Fera Djokosusanto, menegaskan bahwa ada misi strategis yang jauh lebih besar dari sekadar hiburan malam.
Fera memerinci tiga tujuan utama dari konsistensi gelaran ini. Pertama adalah memperkuat fondasi budaya lokal agar tidak hancur diterjang arus globalisasi. Kedua, mengembalikan seni tradisional ke dalam radar minat generasi muda. Ketiga, memberikan ruang kehormatan bagi seniman lokal untuk memamerkan karya terbaik mereka.
”Langkah nyata ini kami ambil demi menjaga identitas asli daerah. Kami ingin memastikan bahwa regenerasi pelaku seni di Kabupaten Pemalang tidak terputus, melainkan terus tumbuh subur di tengah gempuran zaman digital,” papar Fera di hadapan media.
Pesan Sentilan untuk Masa Depan
Suasana haru sekaligus bangga memuncak saat Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, memberikan pidatonya. Anom secara khusus memberikan sorotan tajam kepada Kecamatan Watukumpul. Sebagai wilayah yang secara geografis kerap dibayangi oleh risiko bencana alam yang tinggi, semangat masyarakatnya untuk merawat seni justru menjadi simbol ketahanan mental yang luar biasa.
Bupati Anom melontarkan sebuah refleksi filosofis yang menampar kesadaran modernitas. Menurutnya, investasi pada manusia dan kebudayaan jauh lebih bernilai abadi dibandingkan dengan beton-beton pembangunan fisik.
”Bangunan fisik bisa rusak dan hancur dalam waktu singkat karena bencana. Namun, pembangunan karakter, nilai budaya, dan rasa kebersamaan yang kita tanam malam ini akan tetap hidup. Itulah kekuatan sejati masyarakat yang tidak akan bisa dihancurkan oleh apa pun,” tegas Anom Widiyantoro disambut tepuk tangan riuh.
Ia menambahkan, ketukan demi ketukan instrumen karawitan adalah cerminan pembentukan karakter masyarakat Jawa yang mengedepankan keselarasan, kesabaran, dan budi pekerti. Apresiasi tertinggi pun ia sematkan kepada para pelajar dan pelaku seni muda yang menolak membiarkan warisan leluhur ini punah. Pentas malam itu menjadi bukti bahwa Pemalang tidak hanya ingin membangun wilayahnya secara fisik, melainkan juga membangun jiwa masyarakatnya.*( Joko Longkeyang)















