EMSATUNEWS.CO.ID, JAKARTA — Lonjakan penjualan mobil listrik di pasar nasional menandai babak baru kompetisi otomotif Tanah Air. Kendati demikian, kilau fitur canggih dan persaingan harga murah berisiko sirna jika tak diimbangi oleh fondasi layanan purnajual (after sales) yang kokoh.
Di lapangan, pertimbangan memboyong mobil listrik kini bergeser dari sekadar performa awal menuju kepastian purnajual. Konsumen memerlukan jaminan atas kompleksitas komponen EV, seperti baterai tegangan tinggi, motor listrik, dan peranti Battery Management System (BMS). Penanganan komponen-komponen ini memerlukan alat diagnostik khusus yang tidak dapat disepadankan dengan servis kendaraan bermesin konvensional.
Proses identifikasi kendala pada EV juga membutuhkan ketelitian ekstra. Karena sistem kendaraan sangat bergantung pada integrasi perangkat lunak dan elektronik, perbaikan sering kali melibatkan analisis berlapis, pembaruan sistem, atau kalibrasi ulang. Di titik inilah kejujuran serta keterbukaan pabrikan dalam menjelaskan kondisi perbaikan menjadi penentu kepuasan pelanggan.
Langkah antisipasi terhadap minimnya teknisi andal mulai direspons pelaku industri melalui kemitraan strategis. VKTR, misalnya, menggandeng Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM sebagaimana diumumkan pada 26 Oktober 2026 untuk mencetak tenaga ahli di bidang after sales.
“Seiring armada kami yang terus tumbuh, kami membutuhkan talenta yang siap kerja dan kajian yang membantu kami menjaga keandalan unit di lapangan,” tutur Deputy Vice President Aftersales & Account Management VKTR, Y. Leonardi.
Solusi praktis lain juga ditunjukkan oleh Hyundai Motors Indonesia melalui fasilitas Mobile Charging, layanan bantuan darurat pengisian daya 10 kWh di jalan untuk mengarahkan konsumen ke SPKLU terdekat (sumber: laman resmi Hyundai Indonesia, 5/11/2026).
Namun, ujian sejati ekosistem mobil listrik tidak berhenti pada layanan darurat. Ketersediaan suku cadang yang merata hingga ke daerah, jangkauan bengkel resmi yang inklusif, transparansi ketentuan garansi baterai, serta penyediaan fasilitas cek kesehatan baterai (State of Health/SoH) adalah kunci utama pengikat kepercayaan konsumen. Pada akhirnya, keberlanjutan pasar EV di Indonesia diuji bukan saat mobil keluar dari ruang pamer, melainkan ketika kendaraan tersebut membutuhkan perawatan di bengkel.*













