Scroll ke Atas
Berita UtamaDaerahNasional

Gus Yasin dan Spiritualitas Terbuka: Magnet Shalawat di Jateng

Joko Longkeyang
29
×

Gus Yasin dan Spiritualitas Terbuka: Magnet Shalawat di Jateng

Sebarkan artikel ini

Emsatunews.co.id, Semarang – Lantunan shalawat yang konsisten digaungkan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, kini telah bersemi menjadi kebutuhan pokok spiritualitas warga. Sosok yang akrab disapa Gus Yasin ini dinilai berhasil menjadi motor penggerak jurnalisme langit, membawa pesan damai melalui simfoni doa di berbagai pelosok daerah.

Advertisement

​Apresiasi tersebut mengemuka dalam perhelatan “Al Ikhlas Bersholawat” yang menghadirkan Al Habib Anis Bin Idrus Syahab di Desa Tengaran, Kabupaten Semarang, Minggu (9/2) malam. Kegiatan yang digelar dalam rangka tasyakuran Harlah ke-53 PPP ini menjadi saksi betapa figur Gus Yasin dianggap sebagai penerus estafet perjuangan sang ayah, almarhum Mbah Maimoen Zubair.

Baca Juga :  Gus Yasin Diusulkan Jadi Ketua Umum PPP, Didukung Masyayikh Jawa Tengah

​Tokoh PPP Jawa Tengah, Masruhan Samsurie, menyebutkan bahwa gerakan yang dibangun Gus Yasin merupakan benteng moral bagi masyarakat.”Kami melihat Gus Yasin sebagai penggerak utama. Shalawat adalah penyangga moral bagi kehidupan yang lebih berkah. Selama gema shalawat masih terdengar, harapan untuk Indonesia yang lebih baik akan selalu ada,” ujar Masruhan di sela-sela acara.

​Dalam pesan religiusnya, Gus Yasin mengajak jamaah untuk melakukan refleksi melalui kisah Nabi Musa AS. Ia menceritakan bagaimana Nabi Musa memimpin umatnya bertaubat dan memohon doa di alam terbuka saat diterjang kemarau panjang, hingga akhirnya Tuhan menurunkan hujan keberkahan.

Baca Juga :  Kapolsek Jatibarang Giat Technical Meeting Gelaran Persaba CUP V 2023.

​Menurut Gus Yasin, tradisi berdoa di alam terbuka merupakan sunah para nabi terdahulu yang sangat relevan diterapkan saat ini, terutama ketika bangsa sedang menghadapi berbagai tantangan bencana alam.​”Pemerintah sudah melakukan berbagai mitigasi bencana secara teknis, namun Allah-lah penentu segalanya. Melalui doa bersama ini, kita memohon agar segala marabahaya segera diangkat dari bumi Indonesia,” tutur Gus Yasin dengan khidmat.

​Meski gerimis sempat menyapa lapangan Desa Tengaran, suasana tetap semarak. Selama tiga jam, irama hadroh dari grup Baitul Musthofa terus mengiringi ribuan jamaah yang tetap bertahan demi melantunkan pujian kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.**( Joko Longkeyang)