PEMALANG, Emsatunews.co.id – Komitmen pemerintah Republik Indonesia dalam memperkuat swasembada pangan nasional kembali ditunjukkan melalui Gerakan Tanam Serempak Program Optimalisasi Lahan (OPLAH) Tahun 2026 yang digelar di Desa Jatingarang, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan tanam serempak nasional yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom dan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah pusat Republik Indonesia, aparat keamanan, perguruan tinggi, hingga kelompok tani.
Hadir dalam kegiatan tersebut Brigade Pangan Jawa Tengah, Kapolsek Bodeh, anggota Koramil Bodeh, penyuluh pertanian, pemerintah desa, kelompok tani, serta delapan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang yang diterjunkan di Kabupaten Pemalang.
Program OPLAH merupakan salah satu strategi Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah yang selama ini memiliki indeks pertanaman rendah. Melalui pembangunan infrastruktur pengairan, rehabilitasi saluran irigasi, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pendampingan petani, lahan yang sebelumnya hanya mampu ditanami satu kali dalam setahun ditargetkan meningkat menjadi dua bahkan tiga kali masa tanam.
Dr. Lutfan Makmun, S.ST., M.P., dosen pendamping dari Polbangtan Yogyakarta Magelang, menjelaskan bahwa Brigade Pangan menjadi motor penggerak dalam pelaksanaan program tersebut. Setiap kelompok Brigade Pangan beranggotakan 15 orang yang mengelola lahan seluas 150 hingga 200 hektare, mulai dari pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, panen, hingga penanganan pascapanen.”Brigade Pangan bukan hanya bertugas membantu proses budidaya, tetapi juga menjadi bagian dari regenerasi petani. Anak-anak muda didorong menguasai teknologi pertanian modern sehingga mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Dr. Lutfan.
Ia mengungkapkan, Kabupaten Pemalang memperoleh alokasi Program OPLAH seluas 1.000 hektare pada tahun 2025. Pada tahun 2026, pemerintah kembali menambah luasan program sebesar 824 hektare sehingga total mencapai 1.824 hektare.
Dengan tambahan luasan tersebut, pemerintah menargetkan peningkatan indeks pertanaman dari satu kali menjadi minimal dua kali tanam dalam setahun. Apabila ketersediaan air mencukupi, petani bahkan didorong mampu melakukan tiga kali masa tanam. “Jika produktivitas rata-rata mencapai enam hingga tujuh ton gabah per hektare, tambahan lahan OPLAH ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi beras di Kabupaten Pemalang. Dampaknya tidak hanya dirasakan daerah, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan Jawa Tengah hingga tingkat nasional,” jelasnya.
Menurut Dr. Lutfan, Desa Jatingarang dipilih karena sebagian besar lahan sawah di wilayah tersebut sebelumnya hanya dapat ditanami sekali dalam setahun akibat keterbatasan pasokan air. Oleh karena itu, program difokuskan pada pembangunan irigasi perpompaan, rehabilitasi saluran irigasi tersier, serta penyempurnaan jaringan distribusi air agar mampu menjangkau seluruh area persawahan.
Selain optimalisasi lahan sawah yang sudah ada, Kementerian Pertanian juga melaksanakan program cetak sawah rakyat di Kecamatan Ulujami seluas sekitar 40 hingga 50 hektare yang saat ini masih dalam tahap pengerjaan. Program OPLAH juga diprioritaskan pada kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) agar keberadaan lahan produktif tetap terjaga dari alih fungsi.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Lutfan juga mengingatkan pentingnya regenerasi petani. Ia menilai jumlah petani produktif terus berkurang sehingga keterlibatan generasi muda menjadi kebutuhan mendesak.
Selain menguasai teknologi budidaya modern, anggota Brigade Pangan diharapkan mampu mengelola dan merawat alsintan secara profesional agar dapat digunakan secara berkelanjutan tanpa selalu bergantung pada bantuan pemerintah.
Pemerintah juga mengimbau kelompok tani memanfaatkan seluruh fasilitas yang telah dibangun untuk meningkatkan intensitas tanam menjadi minimal dua kali dalam setahun, bahkan tiga kali apabila kondisi air memungkinkan.
Seluruh pekerjaan pendukung Program OPLAH Tahun 2026 ditargetkan rampung pada akhir Agustus hingga awal September mendatang sehingga dapat dimanfaatkan pada Musim Tanam III Tahun 2026 atau Musim Tanam 2026/2027.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Pemalang, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Pemalang, Era Srinaeni, S.Pi., M.M., menyampaikan apresiasi kepada Polbangtan Yogyakarta Magelang, Brigade Pangan, mahasiswa KKN, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Program OPLAH.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat TNI-Polri, perguruan tinggi, penyuluh pertanian, dan kelompok tani menjadi modal penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Pemalang. Ia berharap pendampingan yang dilakukan mampu menjawab berbagai kebutuhan petani, terutama dalam pengelolaan lahan, pemanfaatan alsintan, dan peningkatan hasil panen.
Sebanyak delapan mahasiswa Polbangtan Yogyakarta Magelang yang sedang melaksanakan KKN di Kabupaten Pemalang turut mendampingi pelaksanaan program tersebut. Mereka ditempatkan di empat kecamatan dengan masing-masing dua mahasiswa.
Salah seorang mahasiswa KKN, Ilham Fariz Kurniawan, mengatakan para mahasiswa ikut mendampingi kegiatan Gerakan Tanam Serempak yang dilaksanakan secara nasional melalui konferensi video.”Kami bertugas mendampingi petani, membantu pelaksanaan kegiatan di lapangan, sekaligus memberikan edukasi mengenai penggunaan teknologi dan mekanisasi pertanian agar program berjalan optimal,” ujarnya.
Melalui sinergi pemerintah, perguruan tinggi, Brigade Pangan, aparat keamanan, dan para petani, Program OPLAH diharapkan menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat swasembada pangan Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Pemalang.( Joko Longkeyang).















