SEMARANG, Emsatunews.co.id — Memperbaiki rumah tidak layak huni (RTLH) ternyata tidak cukup hanya dengan mengganti atap atau memperkuat dinding. Di Jawa Tengah, kerusakan fisik rumah kerap kali menjadi benang kusut yang berkelindan dengan keterbatasan ekonomi penghuninya.
Memasuki usia ke-81, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah komando Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen mengambil langkah progresif. Pemprov mengombinasikan renovasi hunian dengan intervensi langsung terhadap kesejahteraan keluarga yang menempatinya, mulai dari sektor pendidikan hingga perluasan lapangan kerja.”Kita bantu tidak hanya rumahnya. Kalau anaknya ada yang putus sekolah, kita sekolahkan. Kalau butuh pekerjaan, bantuan sosialnya juga kita dorong,” tegas Gubernur Ahmad Luthfi saat menyalurkan bantuan RTLH di Desa Gondang, Sragen, awal Maret lalu.
Ribuan Hunian Tersentuh, Backlog Terus Ditekan
Komitmen pengentasan kawasan kumuh ini terbukti masif. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 274.514 unit hunian berhasil ditangani, yang sukses memangkas angka backlog perumahan dari 1,33 juta unit menjadi 1,05 juta unit pada awal 2026.
Langkah cepat ini terus berlanjut hingga Triwulan II 2026 dengan tambahan penanganan 65.449 unit, yang bersumber dari sinergi APBN, APBD Provinsi, kabupaten/kota, hingga dana CSR serta Baznas. Dari total backlog yang tersisa, porsi terbesar difokuskan pada peningkatan kualitas kelayakan bangunan agar masyarakat bisa berteduh dengan aman dan sehat.
Harapan Baru dari Sailah dan Hadi
Sentuhan nyata program ini dirasakan langsung oleh Sailah (50), warga Desa Ayamputih, Kabupaten Kebumen. Rumah yang dulunya berlantai tanah dan berdinding belum diplester, kini berubah drastis menjadi hunian yang layak. Tak hanya memperbaiki fisik bangunan, Wagub Taj Yasin Maimoen yang turun langsung mengecek lokasi juga menyiapkan solusi bagi masa depan anak sulung Sailah yang belum bekerja melalui pelatihan vokasi dan bursa kerja.”Terima kasih banyak atas bantuannya. Rumah jadi bagus. Dulu rumah masih tanah, temboknya belum diplester. Sekarang sudah lebih layak,” ucap Sailah penuh syukur.
Kisah serupa diungkapkan Hadi Mulyono, warga Kudus. Keterbatasan ekonomi membuatnya bertahun-tahun harus memendam impian memperbaiki rumah reyotnya. Bantuan dari Pemprov Jateng akhirnya mewujudkan mimpi tersebut menjadi nyata.
Meski ratusan ribu unit telah diperbaiki, tantangan besar masih membentang dengan sisa backlog sekitar 993 ribu unit hingga pertengahan 2026. Lewat usia ke-81 ini, Pemprov Jateng membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur dasar warga miskin tidak sekadar mendirikan tembok, melainkan merajut asa dan membuka jalan keluar menuju kemandirian ekonomi keluarga.( Joko Longkeyang).














