Berita UtamaPendidikan

Madrasah di Perkotaan Sulit Cari Murid, Dr. Arief Ungkap Jawabannya

Fahroji
6
×

Madrasah di Perkotaan Sulit Cari Murid, Dr. Arief Ungkap Jawabannya

Sebarkan artikel ini

ESATUNEWS.CO.ID. SEMARANG – Rajin memasang spanduk dan membuat konten media sosial tak jaminan membuat madrasah di perkotaan bertambah jumlah muridnya. Hal tersebut disampaikan Praktisi manajemen pemasaran pendidikan, Dr. Moh. Miftahul Arief, usia dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Doktor UIN Walisongo Semarang di Aula Prof. Tgk. Ismail Yakub, Semarang, Sabtu (7/11/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) selama empat tahun terakhir mencatat tren penurunan jumlah murid madrasah di beberapa kota besar di Indonesia. Menurut Arief, kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan kurangnya promosi. Madrasah di perkotaan juga belum sepenuhnya memahami kebutuhan masyarakat dan belum memiliki keunggulan yang kuat untuk ditawarkan.

Baca Juga :  Siap-siap, BPJS Kesehatan Jadi Syarat Mengurus SIM dan STNK

“Bukan kurang promosi masalahnya, lebih ke madrasah di wilayah urban belum memahami kebutuhan masyarakat, belum memiliki pembeda yang jelas, termasuk belum mampu membuktikan janji melalui program dan pelayanan,” tegas Arief.

Baca Juga :  Ekonom Indonesia Mempertanyakan Kredibilitas Angka Pertumbuhan 5,61%: Tumbuh Tapi Rapuh

Menurut Koordinator Bidang Pengembangan Pendidikan Madrasah LP Ma’arif Jateng itu, pemasaran madrasah di perkotaan harus dimulai dengan mengevaluasi kondisi, memetakan kebutuhan dan segmentasi masyarakat, serta menentukan keunggulan yang layak ditawarkan.

“Promosi hanya membuat masyarakat urban melihat. Agar mereka memilih atau istilahnya Call-to-Action, lembaga harus mempunyai program yang relevan, pelayanan yang konsisten, dan bukti mutu yang dapat dipercaya,” katanya.

Baca Juga :  Godok Raperda Pendidikan, DPRD Pemalang Serap Aspirasi Warga dan Gandeng Kemenkumham

Empat Model, Tidak Semua Madrasah Harus Premium

Terkait mode efektif pemasaran madrasah di perkotaan, Arief merumuskan Model Resonansi Urban-Spiritual. Model yang dijelaskan detail dalam disertasi yang dinobatkan sebagai disertasi terbaik UIN Walisongo tersebut memadukan profesionalitas pengelolaan dengan kekuatan nilai keislaman.

Ada empat strategi yang dapat dipilih sesuai karakter dan kemampuan madrasah.

“Ada model Professional-Premium, yang mengandalkan program khas, tata kelola profesional, dan fasilitas kuat,” ujar Founder AIO Foundation itu.

Model kedua, Balanced-Moderate, menyeimbangkan mutu, kenyamanan layanan, dan keterjangkauan biaya. Ketiga, Achievement-Inclusive, menjadikan prestasi sebagai keunggulan tanpa menutup akses masyarakat.