Emsatunews.co.id, Pemalang – Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Indonesia kembali menunjukkan potret indahnya toleransi dan kedewasaan beragama. Meskipun terdapat perbedaan waktu penetapan 1 Syawal antara hari Jumat dan Sabtu, masyarakat tetap menunjukkan sikap rukun dan saling menghormati tanpa gesekan.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa semangat Bhinneka Tunggal Ika telah mendarah daging di tengah masyarakat Indonesia. Kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pemahaman keagamaan ini dinilai sebagai pencapaian besar dalam kehidupan berbangsa.
Pesan Damai dari Pemalang
Seorang tokoh masyarakat di Pemalang, dr. Darmanto, dalam pesan hangatnya yang viral di media sosial, mengapresiasi cara umat Islam di tanah air dalam menyikapi keberagaman organisasi. Menurutnya, perbedaan waktu lebaran justru menjadi momentum untuk menunjukkan rasa cinta tanah air.
”Kita bangga menjadi bagian dari Indonesia. Puluhan tahun kita menyaksikan Idul Fitri terkadang jatuh pada hari yang berbeda, namun luar biasanya kita tetap bersatu dan tidak saling membenci,” ungkap Darmanto dalam catatan menyambut lebaran tahun ini.
Ia juga menekankan bahwa edukasi dari para ulama dan kiai melalui berbagai platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram telah berhasil membentuk masyarakat yang lebih objektif dan profesional.
Meneladani Jejak Sang Maestro Persatuan
Sikap saling menghargai ini sejatinya merupakan warisan luhur dari para pendiri organisasi besar Islam di Indonesia, seperti K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan. Meski memiliki pendekatan dakwah yang berbeda, keduanya tetap menjaga tali persaudaraan yang erat.
Semangat ini juga selaras dengan prinsip universal dalam literasi kepemimpinan, yakni kemampuan untuk memahami orang lain sebelum menuntut untuk dipahami. Hal ini menciptakan lingkungan yang sehat, di mana perbedaan keyakinan tidak mengganggu komunikasi maupun profesionalitas dalam bekerja.
Minal Aidin Wal Faizin
Suasana Lebaran 1447 H di berbagai daerah, termasuk Pemalang, terpantau kondusif. Warga yang merayakan lebih awal tetap menghargai tetangganya yang masih menjalankan ibadah puasa terakhir, begitu pun sebaliknya.”Perbedaan adalah keniscayaan yang harus diterima. Hal ini justru membuat kita semakin akrab dan tetap saling menolong,” tambahnya.
Mengakhiri pesan damainya, keluarga besar di Pemalang tersebut menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh umat yang merayakan. “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf,” pungkasnya.
Kondisi harmonis ini diharapkan terus terjaga tidak hanya pada momentum hari raya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). **( Joko Longkeyang).















