EMSATUNEWS.CO.ID, KENDAL – Di masyarakat kita, masih ada yang berpandangan bahwa mencari nafkah sebagai peternak dan penggembala bebek adalah pekerjaan yang kotor dan tidak menjanjikan.
Cara pandang tersebut bisa jadi karena pada saat menggembalakan bebeknya harus berkotor-kotor ria dengan lumpur sawah, dan juga dari penampilan serta cara berpakaiannya yang memang terkesan ala kadarnya.
Namun di balik itu semua, ternyata berternak dan menggembalakan bebek memiliki prospek pendapatan yang menjanjikan, dimana penghasilannya tidak kalah dengan gaji atau upah dari para pekerja pabrik atau bahkan pekerja kantoran dengan dandanannya yang rapi.

Adalah Suharjo (50 tahun), warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, memilih dan menetapkan jalan penghidupannya sebagai peternak dan penggembala bebek.
Ditemui saat menggembalakan bebeknya di lahan penggembalaan di lokasi sawah Desa Jambearum, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Minggu (29/3/2026) pagi WIB, Suharjo menuturkan bahwa profesinya tersebut sudah dijalaninya lebih dari 15 tahun.
“Sebelum menjadi peternak dan penggembala bebek, saya pernah bekerja di beberapa perusahaan besar, di antaranya adalah di salah satu pabrik obat nyamuk sebagai teknisi mesin produksi”, terang Suharjo.
Menurut Suharjo, di awal memulai profesinya sebagai peternak dan penggembala bebek, pendapatannya memang belum terlihat menjanjikan. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, penghasilannya juga semakin meningkat.
“Saat ini saya memiliki 380 ekor bebek yang sudah berproduksi. Setiap hari dari 380 ekor bebek tersebut, bisa menghasilkan telur sebanyak 228 – 304 butir atau sebesar 60 hingga 80 persen”, jelas Suharjo.
Terkait dengan harga telur, Suharjo mengemukakan, saat ini harga telur bebek di angka Rp. 2.200 per butir.
Sedangkan untuk pemasarannya, Suharjo mengutarakan bahwa tidak ada permasalahan.
“Untuk pemasaran telur bebek tidak ada kendala karena ada tengkulak yang membelinya secara rutin dengan harga sesuai dengan harga pasaran”, ungkap Suharjo.
Tentang penghasilannya, Suharjo menyampaikan bahwa jika dihitung juga cukup besar.
“Jika bebek yang bertelur hanya 60 persen atau hanya 228 ekor atau 228 butir dengan harga Rp. 2.200/butir, maka pendapatan kotornya sebesar Rp. 501.600 per hari”, papar Suharjo.
Hanya saja, lanjut Suharjo, berternak bebek dengan cara digembalakan memang memiliki tantangan tersendiri karena harus berpindah-pindah lokasi penggembalaan.
Suharjo menuturkan, untuk menggembalakan bebek harus tahu daerah mana saja yang sudah panen padi karena sumber makanannya utamanya berasal dari gabah yang tercecer di sawah, juga remisan seperti keong dan cacing.
Bahkan, lanjut Suharjo, selain di wilayah Kabupaten Kendal, dirinya juga harus menggembalakan bebek-bebeknya hingga ke daerah Jepara, Grobogan, Demak dan beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah.
“Keuntungan ternak bebek yang digembalakan adalah kita tidak perlu membelikan pakan. Tapi produksi telurnya turun. Kapasitas produksinya hanya sekitar 60 persen saja. Tetapi kwalitas telur yang dihasilkan lebih bagus dibanding dengan bebek yang diternakkan di kandang”, terang Suharjo.
Akan tetapi, sambung Suharjo, pada musim kemarau, karena lahan penggembalaannya kering, maka bebek-bebek tersebut harus dikandang di tempat yang dekat dengan air seperti di tepi sungai, dimana kita memberikan makan secara rutin setiap harinya.
“Dengan dikandang dan pemberian pakan yang rutin tersebut, maka pergerakan bebek jadi terbatas dan nutrisinya juga tercukupi sehingga berdampak pada peningkatan produksi telur. Produksi telurnya bisa mencapai 80 persen”, papar Suharjo. (*17).















