Berita Utama

Manusia Di Zaman Edan: Lead Institute Paramadina Bahas Kritik & Ide Filosofis Herbert Marcuse & Cak Nur

Fahroji
3
×

Manusia Di Zaman Edan: Lead Institute Paramadina Bahas Kritik & Ide Filosofis Herbert Marcuse & Cak Nur

Sebarkan artikel ini

EMSATUNEWS.CO.ID, JAKARTA — The Lead Institute Universitas Paramadina kembali menggelar seri “Kajian Filsafat & Agama 2026” bertajuk Madzhab Frankfurt vs “Madzhab” Paramadina dengan tema “Manusia di Zaman Edan”. Edisi ketiga yang dipandu Peneliti The Lead Institute Dida Darul Ulum pada Senin (6/7) malam membandingkan kritik Herbert Marcuse (1898–1979) tentang Manusia Satu Dimensi dengan gagasan Nurcholish Madjid atau Cak Nur (1939–2005) mengenai manusia sebagai khalifatullah atau perwakilan Tuhan. Budaya kejar untung atau kapitalisme dan derasnya arus informasi dinilai membuat masyarakat semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam kebudayaan Jawa, fenomena kemunduran ini kerap disebut sebagai “zaman edan”, istilah yang dipopulerkan pujangga besar dari Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha (1860). Kalatidha berarti zaman keraguan atau masa suram saat nilai-nilai luhur tidak lagi dihargai. Saat serat ini dikarang, Ronggowarsito melihat kebingungan masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial, politik & budaya yang cepat terutama akibat tekanan penjajahan dan melemahnya tatanan tradisional Jawa.

Advertisement
Baca Juga :  Pemalang Siapkan Dana Cadangan Pilkada 2029 Jauh Hari, DPRD Mulai Bahas Raperda

Membuka diskusi, Rektor Universitas Paramadina Prof. Dr. Didik J. Rachbini menegaskan pentingnya kajian filsafat di tengah kondisi tersebut.

“Di tengah derasnya arus informasi dewasa ini di mana pemikiran filsafat semakin terpinggirkan, kajian filsafat menjadi sangat penting sebagai olah fikir, exercise dalam menalar guna menemukan kebenaran sejati,” ujar Didik.

Ketua The Lead Institute Dr. phil. Suratno Muchoeri, alumnus Goethe-Universität Frankfurt, membuka diskusi dengan mengutip filosofi Jawa: “Zaman Edan, Yen Ora Edan Ora Keduman, Nanging sak bejo-bejone wong edan, isih luwih bejo wong kang eling lan waspodo”. Pepeling (nasihat) tersebut memiliki makna, “seberuntung-beruntungnya orang yang ikut arus kegilaan zaman, akan lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.”

Narasumber tamu, Dr. phil. Fitzerald Kennedy Sitorus, dosen filsafat Universitas Pelita Harapan yang juga alumnus Goethe-Universität Frankfurt, memaparkan kritik Marcuse terhadap budaya kejar untung dan gengsi yang mendominasi kehidupan modern. Dalam masyarakat kapitalisme dewasa ini, masyarakat menjadi budak industri dan konsumsi. Manusia merasa dirinya bebas dan nikmat, tetapi di saat yang sama mereka hanya menjadi pasar industri yang berkolaborasi dengan algoritma media digital.

Baca Juga :  Sarasehan 99 Ekonom Syariah: Pengarusutamaan Ekonomi Syariah sebagai Pilar Baru Perekonomian Nasional

“Promosi iklan yang merupakan soko guru kapitalisme, menanamkan kebutuhan-kebutuhan palsu ke dalam diri individu. Pola hidup masyarakat modern saat ini sejatinya bukan otonomi, melainkan cenderung dimanipulasi dengan kebebasan-kebebasan semu,” tuturnya.

Fitzerald juga menyoroti konsep “toleransi represif” (repressive tolerance) Marcuse, yakni bentuk penindasan yang justru memberi ruang bagi kelompok tertindas untuk protes, namun protes tersebut justru memperkuat sistem yang dikritik. Kritik Marcuse ini menggambarkan manusia modern yang terjebak dalam sistem tanpa jalan keluar. Berangkat dari titik buntu itu, Suratno Muchoeri menawarkan neo-sufisme sebagai salah satu jalan yang memadukan spiritualitas batin dengan syariat Islam, sekaligus mendorong umat tetap terlibat aktif dalam realitas sosial.