“Yang pertama adalah kurikulum yang inklusif, beasiswa khusus perempuan di STEM, lalu lingkungan kerja yang family friendly dan support system yang memadai ini menjadi salah satu kebijakan ya.” ujar Wahyuningdiah.
Sementara Dr. Tatik Yuniarti, M.I.Kom, Dosen Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, menekankan pentingnya peran perempuan dalam perubahan sosial dan aksi lingkungan, termasuk melalui pengelolaan sampah berbasis komunitas. Ia mencontohkan praktik bank sampah yang banyak dipelopori perempuan dan pentingnya komunikasi partisipatif untuk membangun kesadaran lingkungan.
“Edukasi dan komunikasi partisipatif dapat dilakukan melalui diskusi interaktif, pertukaran pengalaman antarperempuan, serta pelatihan praktis mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah.” tutur Tatik.
Dalam konteks kepemimpinan, Dr. Siti Nurjanah, MM, Dosen Magister Manajemen Universitas Paramadina menegaskan pentingnya kepemimpinan berbasis empati. “Ketika kita merefleksikan menjadi seorang pemimpin itu juga harus memiliki empati. Kalau sebagai contoh kita sebagai dosen itu juga harus mengasuh dengan humanis, ing ngarso sung tulodo,” ujarnya.
Ia juga mendorong perempuan untuk membangun komunikasi akademis yang santun. “Kita berargumen secara kritis dalam diskusi tanpa menyerang kehormatan pribadi lawan bicara,” tegasnya.
Melalui webinar tersebut, Perempuan Paramadina mendorong agar pemberdayaan perempuan tidak berhenti pada wacana kesetaraan, tetapi diwujudkan melalui akses terhadap pendidikan, kesehatan, teknologi, lingkungan, sumber daya, serta ruang pengambilan keputusan. Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog yang melahirkan gagasan dan kolaborasi untuk membangun masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan.*














